Seketika tubuhnya terhuyung. Entah karena saling berdesakan atau badannya yang kurang fit, ia yang mengenakan setelan biru-biru itu pun terkapar. Rekan-rekannya menggotongnya keluar dari barisan yang menghadang
massa
. Ia dibaringkan di belakang barisan itu.
Sejurus kemudian, tanpa dikomando, para jurnalis dan pewarta foto langsung merubungnya. Jepret, jepret, jepret…cahaya blitz sambar-menyambar. Anggota satpam kampus itu mengerang sembari menutup wajahnya. Matanya memicing. Keringat masih deras mengalir dari keningnya. Pucat.
Sebenarnya tak etis memang: wartawan mengeksploitasi objek beritanya yang menjadi korban. Tapi, ini demonstrasi, di kampus ternama, memakan korban pula. Nilai beritanya pasti tinggi. Sayang, kalau momennya dilewatkan.
Selasa, 19 Desember 2006, UGM memperingati hari jadinya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ulang tahun ke-57 UGM ini pun disambut dengan demo. Aksi dorong masih menjadi ‘menu favorit’ pendemo dan satuan keamanan. Langsung atau tidak, jatuhnya salah seorang awak SKK itu adalah satu akibatnya. Teriakan atau orasi para ‘aktor jalanan’ bahkan telah menginterupsi kuliah (saya) pagi itu.
Dan seperti kebanyakan aksi-aksi turun ke jalan lainnya di kampus ini, demo kali ini pun “terpecah”. Kelompok pertama dari BEM KM-UGM. Tuntutannya, antara lain, transparansi (ejaannya benar
kan
? Soalnya saya sempat lihat salah satu poster yang mereka bawa tertulis “transparasi”. Mungkin saking semangatnya.) keuangan UGM dan demokratisasi yakni dengan pemilihan rektor langsung. Tak kurang seratus
massa
dikerahkan. Spanduk dan poster diangkat tinggi. Bendera BEM KM melambai-lambai.
Meski demo, syariat tetap wajib dijalankan. Hijab pun dibentangkan. Barisan pendemo yang ikhwan (cowok) dan akhwat (cewek) terpisah. Bila barisan ikhwan ada di depan dan berteriak lantang, para akhwat cukup bernyanyi seraya tepuk tangan di belakang. Sampai saya meninggalkan acara, sekira 11.15 WIB, akhwat-akhwat ini, tentu saja, tak diberi kesempatan menjadi orator dan tampil di “podium”. “Memang orator sama dengan imam sholat?” pikir saya.
Mereka memang membawa sendiri podiumnya, yakni mobil berbak terbuka. Selain untuk tempat orator membakar semangat
massa
, bak mobil itu juga mengangkut aneka perlengkapan demo, seperti replika keranda, bunga-bungaan yang biasanya ditabur di makam, dan tomat. Di atas kap mobil dipacak sebuah TOA besar.
BEM KM memang piawai berdemo. Jam terbang aksinya tinggi. Persiapannya pun matang. Tapi agaknya mereka harus lebih banyak berlatih menyetir kalau tetap nekat membawa mobil untuk keperluan demo. Ya, lantaran si sopir—salah satu awak BEM juga—belum fasih mengemudikan mobil tersebut, sang orator yang ada di atas bak nyaris terjungkal. Perpindahan gigi rupanya kurang mulus. Mobil melaju tiba-tiba dan sontak berhenti seketika. Untung, tak terjadi apa-apa.
Pertengahan acara, kelompok kedua datang. Mereka menamakan diri FPU—Forum Peduli UGM. Nah lho, bukannya UGM itu sendiri sudah berupa singkatan? Kok disingkat lagi. Bahkan aliansi demo pun tetap tak dapat luput dari budaya instan—atawa melanggengkan
gaya
bahasa birokratis khas orba (?). Jumlahnya tak kalah banyak dengan
massa
BEM KM. bedanya, pendemo laki-perempuan berbaur. Tak ada pemisahan. Tampang dan tampilan Berupaya tampil lebih kreatif, mereka membuka aksi itu dengan menyuguhkan tarian daerah. Maaf, saya lupa dari mana persisnya. Sayangnya, kesenian ini seakan sublimasi kekerasan para pendemo: tari itu adalah tari perang.
FPU dan BEM KM menolak untuk bergabung. Mereka menggelar demo sendiri-sendiri. Padahal tuntutannya tak banyak berbeda. Meski menekankan pada penghapusan berbagai biaya kuliah SPMA, BOP, SKS—sebagai tuntutan pertama, FPU juga menyerukan adanya akuntabilitas dan transparansi keuangan UGM—dalam rilisnya ada di nomor enam. Pemilihan rector langsung tak disebut secara gamblang, hanya “Libatkan mahasiswa dalam setiap pengambilan keputusan” sebagai tuntutan kedua mereka.
Kedua pihak seakan kukuh menggelar ‘hijabnya’ masing-masing. ‘Hijab’ itu terbentang bisa karena perbedaan kepentingan atau isu yang diusung, berseberangannya organisasi, atau tak segarisnya ideologi mereka. “Rapatkan barisan,” seru salah satu korlap aksi. Kelompok
massa
yang dikomandoi serentak saling mengaitkan tangan, membentuk barikade. Dari seberang terdengar, “Awas kawan-kawan, bersiap, lawan ada di depan.” Tak jelas siapa lawan yang dimaksud, apakah Rektor(at)—yang diwakili bangunan Gedung GSP, tempat dilangsungkannya perayaan Dies—atau SKK, atau justru kelompok-demo yang lain itu.
Setelah itu, terjadilah perang orasi. Bukan balas-berbalasan, melainkan perang dalam arti bersaing suara dan volumenya. Ditujukannya sih sama: ke (petinggi dan pengambil kebijakan) UGM, meski yang paling banyak mendengar (langsung) hanya tukang-jaganya.
Para
pe(n)jabat kampus baru tahu detailnya setelah baca koran esok harinya.
Masing-masing kelompok menyerukan tuntutannya via TOA. TOA BEM lebih besar dan nyaring, menengelamkan seruan FPU. Kendati untuk adu ‘pamer otot leher’ orator FPU lebih jago—ya mungkin gara-gara TOA-nya yang tak secanggih milik BEM. Urusan improvisasi orasi pun FPU tampak lebih menguasai panggung. Salah satu orator BEM bahkan sempat gelagapan membaca teks lagu demo yang dipasang di bak mobil. Ia tak hafal syairnya. Suaranya vakum dan diisi dengan jeda lengang sesaat. Dan digantikan teriakan, “Huu…” dari
massa
.
Aksi memuncak ketika kelompok BEM merangsek ke SKK. Pertahanan ‘satpam (kampus) biru’ ini pun jebol. SKK tunggang langgang, yang disusul
massa
pendemo, menuju depan pintu utama GSP. Di sini, para satpam ini langsung sigap membentuk ‘benteng hidup’ lagi.
Seruan dan dorong-dorongan (maksudnya saling dorong, bukan menyerupai atau pura-pura dorong) tak berhenti. Salah satu awak satpam biru tepar. Ia dijemput ambulance. Ketua BEM disemprot beberapa orang rektorat yang ada di lapangan (yang sedang nonton demo, bukan ikut aksi) terkait hal ini. Salah seorang ‘pejabat teras’ Gedung Pusat (ia menolak berkomentar lebih lanjut ketika saya tanya) menuding salah satu kelompok
massa
diisi orang-orang mabuk. “Lihat saja matanya, merah-merah gitu,” ujarnya sinis.
Yah, pikir saya, mata merah
kan
mungkin karena mereka lembur mengebut
persia
pan demo semalam.
Demo belum berhenti, bahkan diisi nyanyi, tepuk-tepuk, dan lonjak-lonjak. Nyaris sulit dibedakan dengan diskotek. Tomat yang tadi saya sebutkan ada di bak mobil BEM, ternyata bukan sisa bawaan dari mobil-angkut sayur, seperti yang saya kira. Tomat itu memang sengaja disiapkan oleh awak BEM. Untuk apa? Untuk menghujani pintu utama GSP—saya mengira mereka meniru revolusioner Prancis yang menghancurkan Bastille.
Nah, di depan pintu itu, persis di tengah berdirilah orang rektorat yang memarahi Ketua BEM tadi. Ia sempat mencegah ‘amuk
massa
’ itu dengan mengangkat kedua tangannya. “Jangan, jangan…,” kata-katanya selanjutnya ditelan gemuruh
massa
. Apa daya, tomat-tomat keburu melayang. Wuing, wuing…teplok, teplok, teplok.
Dinding pintu GSP berlumuran cairan dan biji tomat. Warnanya jadi kemerah-merahan. “Wah, enak ki disambel,” celoteh seorang kawan ‘aktivis’ yang tak ikut demo, cuma nonton. Tak kena bapak itu memang—si pelempar yang enggak cermat, sengaja tidak dikenakan, atau bapak itu punya daya-elak magis?—tapi sekonyong-konyong muncul para bodyguard yang melindungi bapak tersebut. Penjaga ini bukan berseragam serba biru. Setelannya coklat dan selalu menenteng HT. Ia rutin berkomunikasi lewat HT-nya, sesekali juga melalui HP-nya, melaporkan kejadian. Entah kepada siapa.
Massa FPU tak mau kalah. Mereka masih adu kuat dengan SKK. Dorong-dorongan. Riuh. Penuh peluh.
Pukul 11.45 pesan pendek masuk. Seorang kawan mengabari, “ada pembakaran mayat UGM di dekat rektorat”. Mayat UGM? Dibakar? UGM agamanya Hindu ya?
Siang terik. Matahari hendak tepat menyentuh ubun-ubun. Nyala kamera kedap-kedip. Baterenya nyaris habis. Di sayap barat lantai dua GSP, di antara tumpukan kursi perayaan Dies yang tak terpakai, beberapa orang koki duduk termangu melihat ‘perjuangan’ itu. “Saya toh juga berjuang, mencari makan, dengan membuat dan menghidangkan makanan.
Kan
lebih enak kalo Diesnya dirayain dengan makan-makan,” barangkali begitu pikir mereka.
“Stomach can not wait,” begitu Cina suatu kali beralasan tak mengadopsi demokrasi. Tapi, bagi para pendemo, perut dan makan siang yang tak gratis itu, bisa menunggu. Demi demokrasi?