Pangling

July 17th, 2007 by biasabiasasaja

Saban
hari saya ketemu orang lain.

Ada

yang saya kenal, ada yang tidak.

Ada

yang sudah saya kenal, ada yang
belum, dan ada yang saya ajak kenalan—atau sebaliknya—ketika sekali-dua bersua.
Kenal: tahu namanya, tahu siapa dan bagaimana dia, serta latar identitasnya.

Ada

yang saya kenal lama, ada yang barusan.
Meski saya juga tak tahu batas antara kenal lama dan kenal baru saja. Dan
lama-tidaknya saya kenal orang-orang itu juga bukan jaminan untuk mengukur
kadar kekenalan saya dengannya.

 

Bisa saya
katakan setiap orang yang kita kenal datang dari masa lalu. Setiap ”kini” akan
berganti dengan masa sesudahnya dan dengan demikian, seketika, ia akan jadi
masa lalu. Dan setelah perkenalan, atau masa-masa di mana kita kenal dengan
seseorang, adalah sebuah upaya membangun ruang-ruang relasi untuk dihuni
bersama.

 

Ada

yang formal dan artificial, tapi ada pula yang grapyak
dan sumanak tanpa pretensi apa pun.

Ada

yang “beku” seperti nama dan
alamat sejawat yang cuma kita catat di daftar kontak di ponsel, tapi, layaknya
friendster, ada juga yang begitu liat, tak henti menggembung dan mempertemukan
kita dengan lebih banyak kenalan. Meski, sekali lagi, elastis-tidaknya,
besar-kecilnya ruang itu, sama sekali bukan indikasi untuk menyigi kadar kekenalan
kita.

 

Panta rhei. Dunia mengalir, dan semua yang
ada di dalamnya klintir. Semua
berubah, tak ada yang persis sama di dalamnya kini dan nanti. Termasukkah
orang-orang yang kita kenal?

 

Barangkali, saya tak berani memastikan, tapi ruang relasi
itu tentu saja berubah, tak selalu tetap. Ketika sekian waktu ruang relasi itu
kembang-kempis atau jadi empuk atau mengeras, dan saya bertemu dengan orang
yang telah saya kenal sebelumnya, di sana pula saya acap nyasar hingga sampai di arena di mana keraguan, tapi sekaligus ikhtiar
untuk melengkapi ceceran-ceceran memori akan orang saya kenal, bertemu dan
saling gelut. Dan, dengan terperangah, batin atau mulut saya pun menyeru
hal-hal klise yang gampang terlontar itu. “Lho, kok dia berubah?” “Dia sudah
jadi dewasa…” “Dia enggak lagi seperti ini, tapi kayak begitu…”
Selanjutnya, muncul permakluman-permakluman, peng-lumrah-an.

 

Ya, rupanya ingatan saya terlalu kolot untuk diajak
berubah dalam menyigi kenalan saya, seiring waktu dan kenalan saya yang telah
berbeda, tak seperti dulu.

 

“Seperti dulu”? Seperti apa? Seperti yang saya lihat dan
alami, atau seperti yang saya ingini? Pada benak kita, pada ingatan-ingatan
kita—yang rapuh itu—rupanya kita kadung percaya. Dan telanjur melacurkan
kepercayaan kita, sesudahnya, seterusnya. Di ingatan kitalah orang-orang yang
kita kenal (dulu), kita awetkan, kita bekukan, kita ciptakan sebagai
orang-orang yang “sesuai” dengan diri kita, yang ingin kita kenal, yang ingin
kita kenal seperti atau sebagai apa.

 

Ketika
mereka yang saya kenal itu tak lagi menampakkan apa yang saya tahu dulu, saya
pun pangling—bolak balik antara yang silam dan yang kini, antara yang dapat
saya ingat dan yang sekarang saya lihat. Dan saya baru sadar, sedari awal saya
memang telah terkelabui oleh benak saya yang membekukan ingatan akan manusia.

 

Bisakah
sesekali kita tak eling, berpaling
dari ingatan yang sering mencatat hal-hal yang terlewat? 

 

 

 

 

20 Tahun ke Atas

April 24th, 2007 by biasabiasasaja

Saya
bukan Jamie Cullum. Jari-jari saya cuma
meloncat dari satu tuts ke tuts yang lain di keyboard komputer–bukan
menari-nari dengan lincah di bilah-bilah piano. Tapi, celotehnya itu, dalam Twentysomething yang nyinyir sekaligus
optimis itu, membuat keluh saya–yang sama, yang datang dan pergi tiba-tiba
sekali waktu—sedikit kambuh.

 

After years of expensive
education,
a car full of books and anticipation,
I’m an expert on Shakespeare and that’s a hell of a lot
but the world don’t need scholars
as much as I thought.

 

Saya tak
membayar kelewat mahal untuk kuliah—“cuma” 500 ribu per semester plus jaminan kesehatan 30 ribu. Saya juga tak (belum) punya mobil, apalagi
yang sarat oleh buku. Buku saya, yang
cuma beberapa itu, teronggok di rak kamar atau tercecer entah di mana. Tak ada
yang tentang Shakespeare—maka saya tak tahu (apalagi jago) tentangnya dan
karyanya. Saya cuma mengunyah sedikit-sedikit saja: sedikit Jokpin, sedikit
Goenawan, sedikit Pram, dan sedikit yang lainnya.

Tapi barangkali
saya ikut melakukan antisipasi—dalam bahasa lain: was-was. Dan saya
pun terprovokasi: dunia memang tak butuh banyak orang terpelajar.
Meski
banyak orang yang memilih untuk terlebih dahulu belajar. Saya juga tak tahu
persis untuk apa setelah itu.

 

Maybe I’ll go travelling for a
year,
finding myself or start a career.
I could work for the poor though I’m hungry for fame
we all seem so different but we’re just the same.

Ya, padahal
banyak pilihan selain jadi “terpelajar”. Plesiran (istilah lain: mengulur
masa-masa sekolah, fase menuju terpelajar) sambil tinggal menyambangi ATM 24
jam, menengadahkan tangan dari transfer kiriman. Atau, menguber karier (memulai
karier hanya cocok bagi Negara yang sudah mantap menyiapkan lapangan kerja bagi
warganya, dan si warga tinggal memilih akan mulai, start, kapan) tentu dengan “berkorban” terlebih dahulu menjadi
orang terpelajar dengan gelar kredensial.

 

Dan
kadang kita tak bisa membedakan apakah “karier keterpelajaran”  ini karena didorong ancaman tak-terpenuhinya hajat
hidup dan cemas jadi miskin atau memenuhi kepatutan umum: jadi sarjana, jadi
“orang”, jadi makmur–di mata tetangga di kampong, di gunjingan kawan-kawan
lama, di layar friendster, di katalog almamater… Tenar.

 

Maybe I’ll go to the gym, so I don’t
get fat,
aren’t things more easy with a tight six pack?
Who knows the answers? Who do you trust?
I can’t even separate love from lust.

 

Saya tak
pernah punya perut kotak-kotak. Saya kurus, tak pernah mampir ke gym.
Semua jadi mudah tanpa perut gendut?
Oke, barangkali ini pengorbanan yang dapat kita tebus di umur 30-40-an nanti:
tubuh tambun, perut buncit, plus timbunan kolesterol, juga sakit jantung,
ginjal, darah tinggi. Ketika itu kita baru mengeluh dan bertandang rutin ke
pusat kebugaran.

 

Dan saat
itu apakah kita semakin kesulitan memilah cinta dan nafsu… ?

Maybe I’ll just fall in love that could
solve it all,
philosophers say that that’s enough,
there surely must be more.

Cinta
yang dapat memecahkan segalanya? Kalau kita lamur mana itu cinta, mana itu
nafsu; jangan-jangan yang bisa menyelesaikan segalanya ya cuma nafsu… Kecuali
kita masih setia menonton

asmara


sepasang muda-mudi di drama-drama remaja TV: tak ada nafsu, cinta melulu—yang
suci, yang abadi, yang nggombali. Sambil mencaci, kita menginsyafi: kita temukan
cinta (dan sebagian diri kita di masa lalu) di situ….

Barangkali
hanya senandung di pagi hari, sembari tergesa ke kampus atau ke tempat
kerja:

 Love ain’t the answer nor is work,

the truth eludes me so much it hurts.
But I’m still having fun and I guess that’s the key,
I’m a twenty something and I’ll keep being me.

 
I’m a twenty something.
Let me lie in, Leave me alone.
I’m a twenty something.

Lamat-lamat
saya ingat kata seorang senior, “Kalau sebelum 20 kamu enggak kiri, kamu enggak
punya hati. Kalau setelah 20 kamu enggak kanan, kamu enggak punya otak.” Saya ragu. Dan yang tinggal hanya alunan
terumpet yang menyayat dalam lagu itu, seperti satir yang terjadi sehari-hari, pada
suatu duapuluh-sekian umur kita. Juga nanti. Getir yang kita rayakan—dengan
menertawakan diri. Sendiri, sembunyi-sembunyi.

Kalau Cho Salah Satu Praja Itu…

April 20th, 2007 by biasabiasasaja

Arena Counter Strike Cho Seung-hui adalah
kampusnya. Ia membabat habis 33 nyawa. Cho adalah mahasiswa tingkat akhir
Sastra Inggris. Dengan dua pucuk Glock di tangannya, ia kemudian nampang di
seluruh koran dunia. “Sekarang tanganmu berlumuran dengan darah kental yang tak
akan bisa hilang,” begitu ia berwasiat.

 

Cho tak
bersekolah di IPDN. Ia anak seorang tukang cuci, keturunan

Korea warga
Amerika. Hidup pas-pasan di pinggir kota. Ia tak disekolahkan untuk kelak
menjadi pangreh praja berbadan tegap dengan serenteng lencana. Merasa
dilecehkan sekitarnya, amarahnya meletus.

 

Saya tak
tahu apabila Cho di IPDN. Di sini, aksi keji berlangsung diam-diam.
Pelan-pelan. Lebih dari 30 jiwa melayang sejak kampus dibuka. Penyebabnya, konon,
adalah ulah oknum. Selebihnya: bungkam. Dan kemudian kita mendengar doktrin
yang ngeri itu: jika tak dapat menyentuh hati junior, sentuhlah ulu hatinya!

 

Dan
bayangkanlah ketika Cho adalah salah satu junior itu, ketika ia “disentuh” ulu
hatinya, adakah ia juga akan memberondongkan kemuakannya secara membabi
buta? Dengan rasa geram? Dengan senyum
puas?

 

Pun
sebaliknya: adakah praja-praja itu tak punya benih “depresi akut” atau
“skizofrenia” layaknya Cho selain tubuh yang lebam dan memar? Atau mereka
keburu tersungkur dalam kubur sebelum sempat “berekspresi” seperti Cho?

 

Holden
Caulfield, dalam Catcher in The Rye karya
JD. Salinger—buku yang sempat dilarang di Amerika karena dinilai kelewat vulgar
dan telah mengilhami sejumlah kasus pembunuhan–, menganggap sekolah adalah
sarang kemunafikan. Ia keluar dari sana setelah tak betah diminta melakukan
tetek bengek yang tak disukainya di sekolah: menghafal ini, mengerjakan itu,
mesti dapat nilai segini, harus lulus pelajaran itu…

 

Ekspresi
rasa muak dapat memuncak ke titik paling ekstrim. Dalam Elephant, sebuah flm yang diilhami kisah nyata garapan Gus van
Sant, dua orang pelajar mengeksekusi kawan-kawan dan gurunya laiknya bermain
senapan pinball. Tujuannya: “memberi pelajaran”. Sambil cengengesan, keduanya
menyebarkan maut tanpa rasa was-was; di ujung selasar kelas, di perpustakaan,
di kantin …Kematian pun datang seperti bagian dari jadwal pelajaran hari itu.

Lalu pada
Dead Poet Society, si murid—kalau
tidak salah dipernakan Ethan Hawke—sampai bunuh diri karena niatnya menjadi
dramawan dihalangi sang ayah—yang lebih pengen anaknya jadi pengacara—dan dianggap
mencoreng citra sekolah yang masuk jajaran Ivy League, semacam ‘geng’
sekolah-sekolah bergengsi di Amerika.

Di sini,
drama-drama itu terjadi sehari-hari, dan tak kalah ngeri: saweran buat beli
bocoran jawaban Unas, gantung diri karena tagihan uang seragam, guru tempeleng
muridnya, plagiasi skripsi, stres mengejar target nilai….

 

Sekolah
telah menjadi algojo itu sendiri, sebelum ia melahirkan para algojo. Eksekutor
bagi keberadaban—hakikat tertinggi yang ingin dicapai dengan didirikannya
sekolah.

 

Tentu
jauh lebih banyak mereka yang hidup normal, bahkan jadi lebih beradab, ketika
bersekolah, tapi bisakah segala abnormalitas yang berkaitan dengan institusi
pendidikan selalu dianggap perkecualian? 

 

Sementara,
kesadaran untuk tak bersekolah adalah pilihan yang ganjil. Tak lumrah.

 

Warga Jalur Dua

January 28th, 2007 by biasabiasasaja

Saban
hari, nyaris dalam dua bulan ini, saya jadi warga Jogja yang menggunakan jasa
bis
kota. Entah
itu Aspada, Kopata, atau lain-lainnya, tapi yang jelas harus jalur dua. Hanya
jalur ini yang mengantarkan saya sedekat mungkin dengan tempat tujuan.

 

Selain
lebih terasa nuansa klangenannya, naik bis
kota adalah suatu pelajaran disiplin
tersendiri. Jam berangkat dari kos, supaya dapat bis dan tiba di tujuan tak
terlambat, mesti tepat. Juga agar tak kesusu. Santai, sampai dengan selamat.

 

 

Meski,
displin di bis
kota
punya paradoksnya sendiri. Sopir, yang mengendali bis
kota
supaya baik jalannya, nyatanya sering melaju seenaknya. Penumpang pun kadang
tak lagi jadi raja. Ia bisa diturunkan di mana saja, atau disuruh pindah ke bis
lain, ketika sopir dan kernetnya meminta. Bis kadang muter ke luar jalur untuk
cari penumpang lebih banyak. Atau kalau sopirnya malas, di sore hari bis bisa
balik kandang sebelum waktunya, kendati masih ada tanggungan penumpang.

 

 

Asyiknya,
di dalam bis, ada kesempatan buat ngelamun, merenung, lihat-lihat jalan dan
pemandangan, dll-nya. Bahkan misuh atau nggrundel pada sopir atau kondektur,
atau pengamen. Di jalur dua, pengamen favoritnya mangkal di kawasan Jl. Suroto,
Kotabaru. Bukan cuma nyanyi, tapi juga baca puisi. Lumayan nyeni. Wajahnya,
meski ada yang sok ngepunk, tetap ramah. Simpatik.

 

Ada cukup ruang reflektif dalam satu jok biskota yang kita duduki.

 

Kadang
kita tahu tujuan kita, tapi lewat mana saja sebelum sampai tujuan itu, kita tak
pernah tahu. Persis seperti naik bis
kota. Ada rute yang
sudah ditentukan, tapi terkadang sang sopir membawa kita keluar jalur.

 

Pada
sopir kita bertumpu, senakal apa pun sopir itu mengemudi. Karena seberingas
apapun ia membawa bis, toh kita sampai juga. Memang, sesekali, sebelum sampai
tujuan, kita diturunkan. Atau dioper ke bis yang lain. Setidaknya, kita lebih
dekat dengan tujuan kita. Tak jarang sopir berbaik hati seperti ketika saya
meminjam koran yang ia beli untuk saya baca duluan.

 

Seringkali
dalam bis penumpangnya penuh. Berdesak-desakan.
Ada yang tujuannya sama, ada yang beda.Ada yang jauh, ada yang
dekat. Tapi tak pernah seluruh penumpang satu bis turun bersamaan di tempat
tujuan—kecuali carteran.

 

 

 

Dalam
bis, penumpang rupa-rupa warnanya. Muda, tua, sendiri, berpasangan, rombongan,
kosongan atau dengan banyak bawaan. Macam-macam juga solah tingkahnya.
Ada yang cuek, yang
pura-pura tidur, atau yang peduli dengan penumpang lain.

 

 

Ada yang baik hati menyilakan yang lain
duduk, seperti di buku PMP dulu.

Ada
juga yang buat dosa, dengan mencopet atau memanfaatkan kesempatan ketika
antar-penumpang berdesakan untuk “bersinggungan” dengan yang bukan muhrimnya.

 

Hidup itu
seperti roda yang berputar. Hidup itu seperti putaran ban bis
kota. Juga seperti biskota itu sendiri. Bersahaja, liar, sumpek
tapi dengannyalah kita menjangkau tujuan. Apapun, di manapun itu.
 


Air Berkah PDAM dan Gadis Berjilbab Merah

January 22nd, 2007 by biasabiasasaja

Barusan saya mengikuti prosesi jamasan kereta di keraton. Pengunjungnya berjubel. Mulai dari bocah, muda-mudi, ihwan-akhwat, bapak-bapak, simbok-simbok, bule, hingga simbah-simbah, dan tentunya para abdi dalem.

Tak ketinggalan para juru warta dan jurnalis foto. Dari nasional sampai kelas Jogja TV. Dari yang bawa tripot dan kamera panggul sampai yang cuma sangu kamera digital dengan batere kedap-kedip—seperti saya.

Sebelum kereta dijamas—dibersihkan dengan air bercampur kembang setaman, lalu digosok sampai mengilat, diucapi rapal-rapal tertentu—penonton sudah meringsek. Sebagian menenteng botol plastik bekas. Ada juga yang mencangking ember. Mereka berburu air sisa jamasan.

Sebuah truk tangki bertuliskan PDAM Tamantirto menderu memasuki halaman museum-kereta keraton. “Banyune asat (airnya kering),” kata seorang abdi dalem, tentang alasan keraton mendatangkan bantuan dari PDAM itu. Air dari mobil inilah yang kemudian dipakai untuk memandikan kereta wingit itu.

Bahkan sebelum abdi dalem mulai menjamas, orang-orang sudah meringsek ke arah kereta. “Mangkih mawon, Mbok. Mangkih-mangkih,” kata salah satu abdi. “Nanti saja, Mbok. Nanti-nanti.” Perintah santun itu ditelan kerumunan. Massa cuek. Di tengah prosesi itu, massa menghambur—termasuk mereka yang telah uzur. Air jamasan diambil paksa, kertas pembersihnya direbut, kembang campuran air jamasan dicomot tanpa ampun. “Lumayan, direwangi adoh-adoh mrene.”

Kendati dengan saling balap dan cara-cara kalap, semua tujuannnya ngalap berkah. Salah satunya adalah perempuan, tepatnya akhwat, dengan jilbab merah. Bajunya, kaus lengan panjang agak ketat, juga merah. Bercelana jeans.Wajahnya putih. Bedaknya tebal, tapi tak sanggup menutupi parasnya yang sayu—meski dimasam-masamkan.

Dia membekap botol air minum. Penuh. Di dalamnya beberapa helai kembang terapung-apung. “Percaya, Mbak?” sapa saya, iseng. “Namanya juga orang Jawa,” sahutnya tetap dengan raut cemberut.

Dia tak kuasa menampik dua pemuda yang minta sedikit airnya itu untuk cuci muka. Air pun dikucurkan ke tangan mereka yang langsung mereka pakai untuk membasuh wajah. Lantas, gadis berjilbab merah itu menawarkan ke saya. “Enggak, enggak,” jawab saya.

Tak jauh dari situ, sisa air (PDAM) untuk jamasan yang ditaruh dalam dua tong, dipakai  oleh anak-anak untuk main air, mandi, ciprat-cipratan. Wah, pasti banyak berkah mengalir untuk mereka.

PMS bag.2

January 22nd, 2007 by biasabiasasaja

Skripsi, Antara SIP dan RIP

Kalau
film-film

Hollywood

suka bikin film sekuel,
saya tak mau kalah dengan melanjutkan kisah seputar PMS, yang rupanya banyak
sisi yang belum terungkap, terutama setelah tulisan tersebut dirilis.

 

Semalam
saya menerima sms dari seorang rekan. Menanyakan keikutsertaan saya dalam studi-tour
jurusan ke

Jakarta

.
“Gak ikut,” jawab saya. Iseng-iseng, saya bertanya balik tentang rencananya
semester depan. “Skripsilah, mau apalagi,” tulisnya.

 

Mau
apalagi!!! Menggarap skripsi agaknya semata-mata bukan karena demi mengejar
titel SIP, tetapi untuk mengisi waktu. Ketimbang nganggur atau luntang lantung
ketika beban kredit kuliah (nyaris) habis.

 

Ketika
sudah sukses mengegolkan judul, biasanya para “skriptor” keburu berpuas hati.
Yah, setidaknya selangkah lebih maju ketimbang mereka yang masih meraba-raba
tema, pontang panting ngebut kuliah, atau PMS-nya yang masih menginjak stadium
awal alias belum terlalu akut.

 

Sementara
di sisi lain adagium “Yang mulai skripsi duluan belum tentu kelar dan lulus
duluan”, tampaknya masih jadi jargon yang kuat untuk menenteramkan diri ketika
rekan-rekan yang lain telah melaju dengan skripsinya. Ungkapan itu bisa amat
legitimatif bagi diri sendiri untuk tak terburu-buru memulai mengerjakan
skripsi.

 

Dan berbagai
alasan yang dapat menyebabkan anggapan
itu pun disodorkan: tema nggak fokus lah, dosennya sibuk lah, metodologinya
harus ganti, atau lahan yang diteliti ternyata bermasalah—enggak sesuai
harapan—atau enggak menyetujui penelitian kita. Ketika skripsi mentok di tengah
jalan karena sejumlah faktor itu, para pengusung jargon itu pun akan berseru:
“Makanya jangan kesusu. Santailah…”

 

Tapi toh
yang menyelesaikan, atau nyaris merampungkan, skripsi dan meraih gelar SIP
memang kian mudah bernafas lega, dan dapat beristirahat dengan tenang—meski
cuma sebentar. Karena, setelah skripsi rampung dan kita lulus serta diwisuda,
kita akan disambut oleh orang tua, keluarga, pasangan kita (kecuali yang
jomblo), pasar kerja, atau minimal perut kita sendiri, yang mengusung spanduk
“Selamat datang di dunia nyata.”

 

Lalu SIP
pun tak lagi penting. Cuma jadi simbol kredensial pemenuh syarat-syarat formal
yang kelak bakal kucel dan kumal. Dan tatkala SIP itu bukan lagi jadi sesuatu
yang menakjuban, bagaimana dengan nasib skripsi kita. Dapat A atau bukan,
paling mentereng ia akan nangkring di perpustakaan fakultas. Paling berguna, ia
dikutip atau dijiplak adik kelas—dengan kondisi mengenaskan: sampul koyak
moyak, jilidan lepas, tapi isinya siapa lagi yang peduli.

 

Apesnya,
terselip di tumpukan skripsi di perpustakaan jurusan. “Boleh dipinjam gak,
Mas?” saya membayangkan ada yang hendak meminjam skripsi kita, dan si penjaga
akan enteng menjawab, “ndak boleh. Milik jurusan.” Lalu berdebulah itu skripsi,
dan kelak kalau perpus sudah tak muat, skripsi kita akan diungsikan ke gudang,
ditimbun, lantas kalau gudang penuh, ia hanya berujung di lapak loakan.

 

Skripta
manent. Tulislah agar abadi. Ya, ia memang kekal, tapi ia seakan telah mati
dengan patok nisan bertuliskan, Rest in Peace. Padahal, ketika mengerjakannya
pun (sebagian dari) kita tak pernah bisa beristirahat dengan tenang.

Sakit

January 12th, 2007 by biasabiasasaja

Mengapa tercipta penyakit? Mengapa manusia, juga makhluk hidup yang lain—konon, mengalami sakit? Mengapa tuhan menciptakan penyakit?

Beberapa hari terakhir ini saya acap menemui orang-orang yang sakit, terserang penyakit. Seolah penderitaan di dunia ini belum lengkap kalau tidak ada penyakit. Bukannya keadaan dunia tidak kurang mengenaskan tanpa penyakit, tanpa tubuh yang sakit, yang terserang penyakit? Perang, kemiskinan, dusta, kebencian, korupsi…

Barangkali bukan pada tuhan saya bertanya; tapi pada manusia itu sendiri. Pada kita sendiri, kita mesti menengok mengapa tubuh tergerogoti kanker, tumor, terserang darah tinggi atau darah rendah, terganggu jantung atau ginjalnya.

Dahulu, kita mendengar orang bisa gentur bertapa berhari-hari, puasa atau begadang bermalam-malam, atau mutih, tanpa kena penyakit macam-macam. Tak ada obat, tak ada dokter juga balai penyembuhan dan aneka rupa terapi. Memang ada tabib, tapi itu buat mereka yang tergolong mampu dan penyakit yang diidap termasuk sudah sangat akut. Kalupun mesti diobati cukup bertandang ke belakang rumah, petik daun ini, comot kembang itu, ambil buah atau biji pohon tertentu, lalu diramu, dan dioles atau diminum si sakit. Cukup seperti itu. Hasilnya? Dijamin, cespleng!

Tak juga dikenal penyakit dengan nama yang serbaneka dan canggih. Tidak juga diketahui penyebabnya, fase-fasenya, kapan diprediksi makin parah dan seterusnya. Tak ada informasi yang secara gamblang menerangkan apa dan bagaimana sesuatu bisa bersarang di tubuh seseorang.

Sekarang, penyakit bukannya makin sedikit malah tambah banyak. Padahal ilmu kedokteran semakin maju. Obat-obatan terus ditemukan. Dokter-dokter kian cakap dan piawai. Juru medis dengan kemampuan mumpuni juga tak berhenti ditelurkan. Sarjana kedokteran saban tahun lulus ribuan. Peralatan pengobatan pun ikut mengalami perkembangan yang tak kalah pesat. Lalu, apanya yang kurang?

Yang kurang, dan terus menerus kurang, adalah manusia. Seperti halnya kekurangan atas keingintahuan yang tak mandek diidap manusia, yang menghasilkan berbagai ilmu dan temuan, manusia juga tak pernah merasa cukup untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai eksperimen.

Ya, percobaan, bahwa dengan melakukan ini, mengonsumsi itu, tak ada pengaruh apa pun bagi dirinya. Padahal, setiap inci tubuh manusia adalah mahakarya, keunikan. Bila satu inci ini saja mengalami “sabotase”, terganggu, tentu itu kontribusi besar bagi upaya reparasi atasnya. Setiap ada kerusakan akan diupayakan perbaikannya. Termasuk ketika ikhtiar perbaikan tersebut juga menimbulkan efek sampingnya. Tapi, ya, itu tadi, resiko pun juga jadi bagian atas reparasi itu. Ia sudah dipertimbangkan dan juga sudah diusahakan penangkalnya. Begitu seterusnya, inci demi inci mengalami kelainan, dijelajahi, direparasi, sampai muncul satu deviasi, lantas diperbaiki lagi. Lagi dan lagi.

Manusia merasa dengan  perbaikan terus-menerus, dengan segala kecanggihan kemampuan medik, setiap penyimpangan yang ada di tubuh akhirnya ditemukan, disembuhkan, dan pada akhirnya habis. Dianggapnya, tak ada lagi yang bisa mengutak-atik keasyikannya melanglang buana dengan citarasanya, dengan coba-cobanya. Manusia makin tak segan untuk mencicipi, bahkan yang sebelumnya tak lumrah dan tak boleh dicicipi. Semua dihabisi. Manusia adalah omnivora sejati, apalagi dengan ketakaburannya untuk dapat menaklukkan segala devian yang menyerang dirinya. Dari sini manusia juga kian leluasa mencipta. Dengan jaminan teratasinya segala  resiko, untuk memenuhi langlang buana keserakahannya, manusia melahirkan pemanis, penyedap rasa, pewarna, pengawet, rasa-rasa artifisal.

Meski kemudian yang terjadi jaminan itu di luar kemampuan manusia. Klasifikasi dan definisi medik agaknya tak cukup menanggulangi deviasi-deviasi yang  entah imun, atau berbiak makin variatif sebagai impak upaya reparasi itu. Segala teori dan ilmu pengetahuan kedokteran tidak lagi bisa menampung luberan segala rupa ihwal bidang kajinya. Selalu ada istilah; tak diketahui penyebabnya, belum ada obatnya, dst-nya. Makin tahu segala sesuatu, rupanya manusia makin tak tahu apa-apa.

Maka, sejalan dengan penjelahan tanpa henti atas tubuh, atas saraf, otot, pembuluh darah, organ-organ, dll-nya, saban itu pula muncul devian-devian baru. Semakin banyak obat, tapi makin banyak pula nama penyakit ditemukan, semakin bertambah istilah jenis-jenis penyebabnya. Dan kerap pula di antara itu, di antara para pengidap itu, ada yang terenggut. Selalu ada yang tak tersembuhkan, selalu ada peluang tak tersembuhkan. Di sini, ilmu pasti—ilmu kedokteran itu, dengan segala diagnosa, prediksi-prediksinya—jadi sesuatu yang nisbi. Ia tak lebih sekadar ikhtiar.

Manusia, dengan segala itikad, ikhtiar dan kendablekan dan keangkuhannya, pun terbukti rapuh. Deviasi-deviasi itu di luar kemampuannya. Kecanggihan kemampuan manusia memang belum diketahui batasnya, tapi ia terbukti terbatas.Dan dari keterbatasan manusia inilah penyakit demi penyakit terus menyembul. Untuk menunjukkannya, untuk mengingatkannya, supaya manusia lekas dan terus berupaya. Cuma itu.

ordinary Dog

January 11th, 2007 by biasabiasasaja

Ayo, tumpahkan kepalamu, ada  anjing di dalamnya. Anjing yang mesti bersedia diajak pentas topeng monyet, sebagai pemain tambahan atau figuran dari seekor Sarimin, cikal bakal atau sejawat manusia itu.

Biarkan kini anjing itu tak lagi garang menyalak, karena dia bukan lagi pengawas atau bahkan tukang jaga yang siap menghalau bromocorah. Dia memang anjing ganas, parasnya buas, taring mengilat, dan dari lidah dan ludahnya yang terkatung di sudut mulut, orang pun tahu ia anjing yang galak. Tapi itu dulu, sebelum terlalu banyak kawan-kawannya yang main film kartun.

Biarkan ia kini melompat-lompat dalam suatu sirkus. Dan ditonton orang ramai. Membuat mereka tertawa-tawa, bertempik sorak. Menghibur mereka. Dalam suatu kontes anjing sejagat ia ingin menggonggong, tapi yang keluar hanya salak yang parau. Serak.  Tapi itu yang mereka semua dengar. Dari cuping telinganya sendiri, ia mendengar larik demi larik sebuah lagu. Tembang lawas. Dan dalam bahasa anjing, bunyinya begini:

Came in from a rainy Thursday on the avenue

Throught I heard you talking softly

I turned on the lights, the TV, and the radio

Still I can’t escape the ghost of You

What has happened to it all…

Crazy, some’d say

Wheres is the life that I recognize

Gone away…

But I wont cry for yesterday, there’s an ordinary world

Somehow I have to find…

And as I try to make my way, to the ordinary world,

I will learn to survive…

Passion or coincidence once prompted You to say

“Pride will tear us a both apart,”

Well now pride’s gone out to window, cross the rooftops, run away

Left me in the vacuum of my heart

What is happening to me?

Crazy, some’d say

Where is my friend when I need You most

Gone away…

Papers in the roadside tell of suffering and greed

Feared today, forgot tomorrow

Oh, here besides the news of holy war and holy need

Ours is just a little sorrowed talk

Just blown away…

And I dont cry for yesterday, there’s an ordinary world

Somehow I have to find

And as I try to make my way, to the ordinary world,

I will learn to survive…

Every world is my world…

Any world is my world…

Anjing hafal dengan sendirinya lagu milik Duran Duran yang diputar saban hari oleh sang majikan. Majikan yang bangun pagi-pagi, lalu membuka hp-nya, pergi buru-buru ke tempat kerja, pusing sepanjang siang, dan pulang mencangking penat. Malamnya ia akan habis sendirian. Dan di dalam kepala, si anjing menjaga dengan setia, menjaga agar dunia si majikan biasa-biasa saja. Dengan belajar, learn, dengan ngelmu. Dan ngelmu dalam satu lagu Macapat, “iku kalakone kanthi laku.” Lelaku, lumaku, laku,.. payu? 

Surga (&) Perempuan

December 21st, 2006 by biasabiasasaja

Di mana letak surga? Di telapak kaki ibu; perempuan yang melahirkan kita itu. Lalu, di mana surga bagi perempuan (sholehah)? Di tangan laki-laki, rupanya.

Saya tak sanggup membayangkan rautnya ketika menuliskan kesahnya di milis itu. Nadanya getir. Pedih. Ia seorang akhwat yang memilih untuk “tidak sholehah”. Ia memang sempat “tercuci otaknya”, menganggap bahwa poligami—tepatnya poligini—merupakan panacea, obat manjur, suatu jalan keluar, semacam emergency exit—kata dai kondang kita. Untuk menjawab membludaknya jumlah cewek ketimbang cowok, untuk melindungi janda, untuk menyetop zina dan prostitusi, membentengi dari penyakit kelamin, dsb-nya.

Di pesantrennya, poligini bukan sekadar dibolehkan, tapi dikampanyekan. Poligini (atau polibini?) telah dipropagandakan.

Para

ustad—yang jelas laki-laki—senantiasa menyerukan untuk menjadi sebaik-baik laki-laki, eh ikhwan, dari segi apapun: finansial, intelektual, strata sosial, dst-nya, agar sanggup menikahi perempuan lebih dari satu. Sementara, para akhwat didakwahi untuk merelakan suaminya menikah lagi, dimadu, menjadi ‘istri tua’…kalau mau menjadi perempuan yang solehah. Surga, sampai di sini, diimingkan kepada para akhwat ini. Dan laki-laki pun seolah dapat tiket-terusan sekali jalan: ‘surga dunia’ alias syahwat dan surga betulan.

Tentu tak ada pilihan bebas di sini. Tak ada rational choice. Kalau mau menjadi perempuan sholehah dan menggapai surga, relakanlah suami menikah lagi. Bercerai memang halal, kendati “arasy Allah akan terguncang karenanya”. Dan untuk menerima suami berpoligini adalah suatu tragedi. Pilih yang mana, coba?

Saya bukan perempuan, dan saya sulit menjangkau kegetiran itu.

Ia bersama santri muslimah lainnya seakan dibuat merasa bersalah bila tidak menerima poligini, dibuat merasa tak kuat imannya, tak ikhlas, tak solehah. “

Kalau

sudah begini, apakah kami bisa betul-betul bebas memilih?” ratapnya. Ia kemudian memilih untuk tidak menikah, tidak menjalankan “separuh agama”, bersiap dengan rerasan ia bukan umat Muhammad.

“Kelemahan,” kata Shakespare lewat mulut Hamlet, “namamu adalah perempuan.” Kelemahankah? Saya tak tahu pasti, tapi barangkali pilihan itu bisa dibaca sebaliknya. Tapi mungkin juga, hegemoni, yang akut dan awet, mendekam di dalam

sana

. Baik ketika perempuan itu sendirian menghadapi ‘tawaran’ poligini dengan opsi-opsi yang berkecamuk dan berbenturan dari berbagai segi, maupun ketika dirinya telah terbuhul dalam satu ikatan poligini bersama sesama-istri-yang-lain sang suami.  Dengan kata lain, para istri poliginis yang

tampa

k kompak dan nrima itu barangkali telah beradaptasi, bahkan berdamai, dengan ketidakadilan. “Ini mirip dengan perbudakan,” tulisnya.

Seekstrem itukah? Sekali lagi, saya bukan perempuan, dan juga tak tahu isi kepala orang-orang poliginis. Sebatas meredam geliat ‘bawah perut’? Saya tak yakin dan menampik itu. Bukannya relasi personal-emosional laki-perempuan serta pernikahan bukan semata-mata

ur

usan di balik sarung dan kelambu? Dan tentang ketidakadilan? Ho..ho.. kalau Jean Marais bisa mewejangi Minke (dalam epik Bumi Manusia Pramoedya A. Toer) untuk “adillah sejak dalam pikiran”, maka bisakah kita adil sejak dalam hati?

Adil adalah kata yang lurus, kukuh, rigid. Kata yang mengandaikan totalitas. Utuh. Kata yang sudah ‘selesai’ dan tak dapat dirongrong. Untuk adil kita butuh yang diadili, sang pengadil seperti hakim atau wasit, saksi-saksi. Bisakah satu individu merangkap semua posisi itu? Padahal, intimitas dua

oran

g lawan-jenis juga bukan suatu yang bisa divonis seperti di sidang peradilan.

Dan perempuan agaknya dikucilkan dari kata ini. Sejarah misogyny; kebencian terhadap wanita, terentang panjang sejak jaman Yunani hingga Bekasi kini, dari Yahudi sampai Islam, sejak era Gerwani sampai Teh Ninih. “Di mana tak ada perempuan, ke tempat itulah kita harus pergi,” kata Apa Sisoes, biarawan Mesir di  abad ke-4, dalam ‘dongeng’ Goenawan Mohamad yang ia nukil dari buku The Body and Society-nya sejarawan Univ. Princeton, Peter Brown. Di kisah lain, seorang rahib mencelupkan jubahnya ke darah bangkai wanita dan berharap baunya membuat ia tak berfantasi tentang perempuan. Bahkan ketika menggendong ibunya, sang rahib sampai membuntal tangannya agar tak menyentuh si ibu. “Daging semua perempuan adalah api.”

Aliran ortodoks Yahudi mengenal kol isha, di mana lelaki dilarang mendengar nyanyi perempuan. Perempuan haram memakai baju tanpa lengan, celana ketat, potongan krah yang  rendah.

Ada

juga syariat halacha, seorang istri wajib menutup rambutnya. Perempuan pun harus ‘dihias’, dengan perhiasan; gelang, kalung, anting—yang mulanya sebagai jimat, manna, untuk menutup lubang-lubang di tubuh yang berpotensi sebagai gerbang setan. Ketika mens ia mesti dipingit di rumah, sebab ia membawa najis dan mala.

Beda dengan Rangga yang “lari ke pantai”, untuk menghindari mala tersebut para rahib, para laki-laki itu, bertolak ke gurun. Yah, sehingga amat beralasan dalam silsilah agama Abrahamik, surga adalah aliran sungai dengan kecipak air nan jernih sebagai ganjaran sekaligus sublimasi telah menyingkiri keduniawian dan beruzlah di

padang

pasir.

Tentu bisa ditambahkan: surga; dengan “bidadari beribu”, meminjam frasa Chairil. Menghindari perempuan di dunia untuk sekadar ditunda di akhirat kelak? Atau lewat poligini itukah mala, godaan, muasal (dan muara) bangkitnya syahwat, dosa itu dapat dicegah, dengan dilindungi, dinikahi, ditaklukkan?

Dulu, mengacu khotbah Jumat yang saya dengar, saya membayangkan kalau laki-laki mati, di surga ia akan dilayani para bidadari. Pertanyaannya, ke manakah sang istri? Atau sang istri menjelma jadi bidadari? Lalu, apakah perempuan juga akan dilayani para pejantan? Dan yang paling mutakhir dan menyentil, mengapa disebut “para bidadari”, “bidadari-bidadari”, dan bukan cuma “bidadari” yang tunggal. Adakah bila para bidadari itu adalah istri kita di dunia, dengan begitu poligini adalah fitrah kaum Adam di jagat fana juga di alam baka? 

Dan perempuan adalah per-empu-an: merujuk tempat, milik, sang empu; laki-laki. Ia mesti dimiliki atau dieram dalam rumah, tentu karena si empu dari kalangan menengah-atas yang tak perlu tambahan penghasilan dari si istri, si per-empu-an. Ia wajib dijaga agar tak mengusik khusyuk sibuk dan hirukpikuk kita. Ia mesti menunda atau merelakan ‘surganya kini’, dan ‘surganya nanti’ juga diraih dengan rintih dan keikhlasan yang mungkin amat ringkih. Surga yang notabene ia sandang, di bawah telapak kakinya.

Tapi barangkali tak akan ada surga di kaki kawan kita tadi. Ya,

kenya

taan di Daarut Tauhid, pesantren tempatnya nyantri

lima

tahun lampau, membuatnya meninggalkan bahtera perkawinan, menanggalkan status istri (sholehah), dan tak akan ada yang memanggilnya sebagai ibu dan bersujud di ‘surganya’ itu—kecuali kalau ia membeli benih di bank sperma untuk ia erami—serta merelakan surganya tetap dikuasai sang empu.

Tragedy? Ya, dalam arti sebenarnya, bukan cuma sebagai kesedihan. Ia tumbang, kalah, tapi membuktikan, perempuan bukanlah gabus yang dapat diombang-ambingkan lautan dan diempaskan begitu saja di pinggir pantai. Ia memutuskan keluar dari kuldesak citraan-citraan paradoksial perempuan yang membingungkan: sumber kebejatan yang dikhidmati, dipuja dan dihinakan sekaligus, dosa yang dijanjikan di surga.

Saya tetap tak dapat menjangkau kegetiran itu.

Merayakan Ultah dengan “Hijab” dan Tomat

December 19th, 2006 by biasabiasasaja

                                                                                                 

Seketika tubuhnya terhuyung. Entah karena saling berdesakan atau badannya yang kurang fit, ia yang mengenakan setelan biru-biru itu pun terkapar. Rekan-rekannya menggotongnya keluar dari barisan yang menghadang

massa

. Ia dibaringkan di belakang barisan itu.

Sejurus kemudian, tanpa dikomando, para jurnalis dan pewarta foto langsung merubungnya. Jepret, jepret, jepret…cahaya blitz sambar-menyambar. Anggota satpam kampus itu mengerang sembari menutup wajahnya. Matanya memicing. Keringat masih deras mengalir dari keningnya. Pucat.   

Sebenarnya tak etis memang: wartawan mengeksploitasi objek beritanya yang menjadi korban. Tapi, ini demonstrasi, di kampus ternama, memakan korban pula. Nilai beritanya pasti tinggi. Sayang, kalau momennya dilewatkan.

Selasa, 19 Desember 2006, UGM memperingati hari jadinya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ulang tahun ke-57 UGM ini pun disambut dengan demo. Aksi dorong masih menjadi ‘menu favorit’ pendemo dan satuan keamanan. Langsung atau tidak, jatuhnya salah seorang awak SKK itu adalah satu akibatnya. Teriakan atau orasi para ‘aktor jalanan’ bahkan telah menginterupsi kuliah (saya) pagi itu.

Dan seperti kebanyakan aksi-aksi turun ke jalan lainnya di kampus ini, demo kali ini pun “terpecah”. Kelompok pertama dari BEM KM-UGM. Tuntutannya, antara lain, transparansi (ejaannya benar

kan

? Soalnya saya sempat lihat salah satu poster yang mereka bawa tertulis “transparasi”. Mungkin saking semangatnya.) keuangan UGM dan demokratisasi  yakni dengan pemilihan rektor langsung. Tak kurang seratus

massa

dikerahkan. Spanduk dan poster diangkat tinggi. Bendera BEM KM melambai-lambai.

Meski demo, syariat tetap wajib dijalankan. Hijab pun dibentangkan. Barisan pendemo yang ikhwan (cowok) dan akhwat (cewek) terpisah. Bila barisan ikhwan ada di depan dan berteriak lantang, para akhwat cukup bernyanyi seraya tepuk tangan di belakang. Sampai saya meninggalkan acara, sekira 11.15 WIB, akhwat-akhwat ini, tentu saja, tak diberi kesempatan menjadi orator dan tampil di “podium”. “Memang orator sama dengan imam sholat?” pikir saya.

Mereka memang membawa sendiri podiumnya, yakni mobil berbak terbuka. Selain untuk tempat orator membakar semangat

massa

, bak mobil itu juga mengangkut aneka perlengkapan demo, seperti replika keranda, bunga-bungaan yang biasanya ditabur di makam, dan tomat. Di atas kap mobil dipacak sebuah TOA besar.

BEM KM memang piawai berdemo. Jam terbang aksinya tinggi. Persiapannya pun matang. Tapi agaknya mereka harus lebih banyak berlatih menyetir kalau tetap nekat membawa mobil untuk keperluan demo. Ya, lantaran si sopir—salah satu awak BEM juga—belum fasih mengemudikan mobil tersebut, sang orator yang ada di atas bak nyaris terjungkal. Perpindahan gigi rupanya kurang mulus. Mobil melaju tiba-tiba dan sontak berhenti seketika. Untung, tak terjadi apa-apa.

Pertengahan acara, kelompok kedua datang. Mereka menamakan diri FPU—Forum Peduli UGM. Nah lho, bukannya UGM itu sendiri sudah berupa singkatan? Kok disingkat lagi. Bahkan aliansi demo pun tetap tak dapat luput dari budaya instan—atawa melanggengkan

gaya

bahasa birokratis khas orba (?). Jumlahnya tak kalah banyak dengan

massa

BEM KM. bedanya, pendemo laki-perempuan berbaur. Tak ada pemisahan. Tampang dan tampilan  Berupaya tampil lebih kreatif, mereka membuka aksi itu dengan menyuguhkan tarian daerah. Maaf, saya lupa dari mana persisnya. Sayangnya, kesenian ini seakan sublimasi kekerasan para pendemo: tari itu adalah tari perang.

FPU dan BEM KM menolak untuk bergabung. Mereka menggelar demo sendiri-sendiri. Padahal tuntutannya tak banyak berbeda. Meski menekankan pada penghapusan berbagai biaya kuliah SPMA, BOP, SKS—sebagai tuntutan pertama, FPU juga menyerukan adanya akuntabilitas dan transparansi keuangan UGM—dalam rilisnya ada di nomor enam. Pemilihan rector langsung tak disebut secara gamblang, hanya “Libatkan mahasiswa dalam setiap pengambilan keputusan” sebagai tuntutan kedua mereka.

Kedua pihak seakan kukuh menggelar ‘hijabnya’ masing-masing. ‘Hijab’ itu terbentang bisa karena perbedaan kepentingan atau isu yang diusung, berseberangannya organisasi, atau tak segarisnya ideologi mereka. “Rapatkan barisan,” seru salah satu korlap aksi. Kelompok

massa

yang dikomandoi serentak saling mengaitkan tangan, membentuk barikade. Dari seberang terdengar, “Awas kawan-kawan, bersiap, lawan ada di depan.” Tak jelas siapa lawan yang dimaksud, apakah Rektor(at)—yang diwakili bangunan Gedung GSP, tempat dilangsungkannya perayaan Dies—atau SKK, atau justru kelompok-demo yang lain itu.

Setelah itu, terjadilah perang orasi. Bukan balas-berbalasan, melainkan perang dalam arti bersaing suara dan volumenya. Ditujukannya sih sama: ke (petinggi dan pengambil kebijakan) UGM, meski yang paling banyak mendengar (langsung) hanya tukang-jaganya.

Para

pe(n)jabat kampus baru tahu detailnya setelah baca koran esok harinya.

Masing-masing kelompok menyerukan tuntutannya via TOA. TOA BEM lebih besar dan nyaring, menengelamkan seruan FPU. Kendati untuk adu ‘pamer otot leher’ orator FPU lebih jago—ya mungkin gara-gara TOA-nya yang tak secanggih milik BEM. Urusan improvisasi orasi pun FPU tampak lebih menguasai panggung. Salah satu orator BEM bahkan sempat gelagapan membaca teks lagu demo yang dipasang di bak mobil. Ia tak hafal syairnya. Suaranya vakum dan diisi dengan jeda lengang sesaat. Dan digantikan teriakan, “Huu…” dari

massa

.

Aksi memuncak ketika kelompok BEM merangsek ke SKK. Pertahanan ‘satpam (kampus) biru’ ini pun jebol. SKK tunggang langgang, yang disusul

massa

pendemo, menuju depan pintu utama GSP. Di sini, para satpam ini langsung sigap membentuk ‘benteng hidup’ lagi.

Seruan dan dorong-dorongan (maksudnya saling dorong, bukan menyerupai atau pura-pura dorong) tak berhenti. Salah satu awak satpam biru tepar. Ia dijemput ambulance. Ketua BEM disemprot beberapa orang rektorat yang ada di lapangan (yang sedang nonton demo, bukan ikut aksi) terkait hal ini. Salah seorang ‘pejabat teras’ Gedung Pusat (ia menolak berkomentar lebih lanjut ketika saya tanya) menuding salah satu kelompok

massa

diisi orang-orang mabuk. “Lihat saja matanya, merah-merah gitu,” ujarnya sinis.

Yah, pikir saya, mata merah

kan

mungkin karena mereka lembur mengebut

persia

pan demo semalam.

Demo belum berhenti, bahkan diisi nyanyi, tepuk-tepuk, dan lonjak-lonjak. Nyaris sulit dibedakan dengan diskotek. Tomat yang tadi saya sebutkan ada di bak mobil BEM, ternyata bukan sisa bawaan dari mobil-angkut sayur, seperti yang saya kira. Tomat itu memang sengaja disiapkan oleh awak BEM. Untuk apa? Untuk menghujani pintu utama GSP—saya mengira mereka meniru revolusioner Prancis yang menghancurkan Bastille.

Nah, di depan pintu itu, persis di tengah berdirilah orang rektorat yang memarahi Ketua BEM tadi. Ia sempat mencegah ‘amuk

massa

’ itu dengan mengangkat kedua tangannya. “Jangan, jangan…,” kata-katanya selanjutnya ditelan gemuruh

massa

. Apa daya, tomat-tomat keburu melayang. Wuing, wuing…teplok, teplok, teplok.

Dinding pintu GSP berlumuran cairan dan biji tomat. Warnanya jadi kemerah-merahan. “Wah, enak ki disambel,” celoteh seorang kawan ‘aktivis’ yang tak ikut demo, cuma nonton. Tak kena bapak itu memang—si pelempar yang enggak cermat, sengaja tidak dikenakan, atau bapak itu punya daya-elak magis?—tapi sekonyong-konyong muncul para bodyguard yang melindungi bapak tersebut. Penjaga ini bukan berseragam serba biru. Setelannya coklat dan selalu menenteng HT. Ia rutin berkomunikasi lewat HT-nya, sesekali juga melalui HP-nya, melaporkan kejadian. Entah kepada siapa.

Massa FPU tak mau kalah. Mereka masih adu kuat dengan SKK. Dorong-dorongan. Riuh. Penuh peluh.

Pukul 11.45 pesan pendek masuk. Seorang kawan mengabari, “ada pembakaran mayat UGM di dekat rektorat”. Mayat UGM? Dibakar? UGM agamanya Hindu ya?

Siang terik. Matahari hendak tepat menyentuh ubun-ubun. Nyala kamera kedap-kedip. Baterenya nyaris habis. Di sayap barat lantai dua GSP, di antara tumpukan kursi perayaan Dies yang tak terpakai, beberapa orang koki duduk termangu melihat ‘perjuangan’ itu. “Saya toh juga berjuang, mencari makan, dengan membuat dan menghidangkan makanan.

Kan

lebih enak kalo Diesnya dirayain dengan makan-makan,” barangkali begitu pikir mereka.

Stomach can not wait,” begitu Cina suatu kali beralasan tak mengadopsi demokrasi. Tapi, bagi para pendemo, perut dan makan siang yang tak gratis itu, bisa menunggu. Demi demokrasi?