Archive for December, 2006

Surga (&) Perempuan

Thursday, December 21st, 2006

Di mana letak surga? Di telapak kaki ibu; perempuan yang melahirkan kita itu. Lalu, di mana surga bagi perempuan (sholehah)? Di tangan laki-laki, rupanya.

Saya tak sanggup membayangkan rautnya ketika menuliskan kesahnya di milis itu. Nadanya getir. Pedih. Ia seorang akhwat yang memilih untuk “tidak sholehah”. Ia memang sempat “tercuci otaknya”, menganggap bahwa poligami—tepatnya poligini—merupakan panacea, obat manjur, suatu jalan keluar, semacam emergency exit—kata dai kondang kita. Untuk menjawab membludaknya jumlah cewek ketimbang cowok, untuk melindungi janda, untuk menyetop zina dan prostitusi, membentengi dari penyakit kelamin, dsb-nya.

Di pesantrennya, poligini bukan sekadar dibolehkan, tapi dikampanyekan. Poligini (atau polibini?) telah dipropagandakan.

Para

ustad—yang jelas laki-laki—senantiasa menyerukan untuk menjadi sebaik-baik laki-laki, eh ikhwan, dari segi apapun: finansial, intelektual, strata sosial, dst-nya, agar sanggup menikahi perempuan lebih dari satu. Sementara, para akhwat didakwahi untuk merelakan suaminya menikah lagi, dimadu, menjadi ‘istri tua’…kalau mau menjadi perempuan yang solehah. Surga, sampai di sini, diimingkan kepada para akhwat ini. Dan laki-laki pun seolah dapat tiket-terusan sekali jalan: ‘surga dunia’ alias syahwat dan surga betulan.

Tentu tak ada pilihan bebas di sini. Tak ada rational choice. Kalau mau menjadi perempuan sholehah dan menggapai surga, relakanlah suami menikah lagi. Bercerai memang halal, kendati “arasy Allah akan terguncang karenanya”. Dan untuk menerima suami berpoligini adalah suatu tragedi. Pilih yang mana, coba?

Saya bukan perempuan, dan saya sulit menjangkau kegetiran itu.

Ia bersama santri muslimah lainnya seakan dibuat merasa bersalah bila tidak menerima poligini, dibuat merasa tak kuat imannya, tak ikhlas, tak solehah. “

Kalau

sudah begini, apakah kami bisa betul-betul bebas memilih?” ratapnya. Ia kemudian memilih untuk tidak menikah, tidak menjalankan “separuh agama”, bersiap dengan rerasan ia bukan umat Muhammad.

“Kelemahan,” kata Shakespare lewat mulut Hamlet, “namamu adalah perempuan.” Kelemahankah? Saya tak tahu pasti, tapi barangkali pilihan itu bisa dibaca sebaliknya. Tapi mungkin juga, hegemoni, yang akut dan awet, mendekam di dalam

sana

. Baik ketika perempuan itu sendirian menghadapi ‘tawaran’ poligini dengan opsi-opsi yang berkecamuk dan berbenturan dari berbagai segi, maupun ketika dirinya telah terbuhul dalam satu ikatan poligini bersama sesama-istri-yang-lain sang suami.  Dengan kata lain, para istri poliginis yang

tampa

k kompak dan nrima itu barangkali telah beradaptasi, bahkan berdamai, dengan ketidakadilan. “Ini mirip dengan perbudakan,” tulisnya.

Seekstrem itukah? Sekali lagi, saya bukan perempuan, dan juga tak tahu isi kepala orang-orang poliginis. Sebatas meredam geliat ‘bawah perut’? Saya tak yakin dan menampik itu. Bukannya relasi personal-emosional laki-perempuan serta pernikahan bukan semata-mata

ur

usan di balik sarung dan kelambu? Dan tentang ketidakadilan? Ho..ho.. kalau Jean Marais bisa mewejangi Minke (dalam epik Bumi Manusia Pramoedya A. Toer) untuk “adillah sejak dalam pikiran”, maka bisakah kita adil sejak dalam hati?

Adil adalah kata yang lurus, kukuh, rigid. Kata yang mengandaikan totalitas. Utuh. Kata yang sudah ‘selesai’ dan tak dapat dirongrong. Untuk adil kita butuh yang diadili, sang pengadil seperti hakim atau wasit, saksi-saksi. Bisakah satu individu merangkap semua posisi itu? Padahal, intimitas dua

oran

g lawan-jenis juga bukan suatu yang bisa divonis seperti di sidang peradilan.

Dan perempuan agaknya dikucilkan dari kata ini. Sejarah misogyny; kebencian terhadap wanita, terentang panjang sejak jaman Yunani hingga Bekasi kini, dari Yahudi sampai Islam, sejak era Gerwani sampai Teh Ninih. “Di mana tak ada perempuan, ke tempat itulah kita harus pergi,” kata Apa Sisoes, biarawan Mesir di  abad ke-4, dalam ‘dongeng’ Goenawan Mohamad yang ia nukil dari buku The Body and Society-nya sejarawan Univ. Princeton, Peter Brown. Di kisah lain, seorang rahib mencelupkan jubahnya ke darah bangkai wanita dan berharap baunya membuat ia tak berfantasi tentang perempuan. Bahkan ketika menggendong ibunya, sang rahib sampai membuntal tangannya agar tak menyentuh si ibu. “Daging semua perempuan adalah api.”

Aliran ortodoks Yahudi mengenal kol isha, di mana lelaki dilarang mendengar nyanyi perempuan. Perempuan haram memakai baju tanpa lengan, celana ketat, potongan krah yang  rendah.

Ada

juga syariat halacha, seorang istri wajib menutup rambutnya. Perempuan pun harus ‘dihias’, dengan perhiasan; gelang, kalung, anting—yang mulanya sebagai jimat, manna, untuk menutup lubang-lubang di tubuh yang berpotensi sebagai gerbang setan. Ketika mens ia mesti dipingit di rumah, sebab ia membawa najis dan mala.

Beda dengan Rangga yang “lari ke pantai”, untuk menghindari mala tersebut para rahib, para laki-laki itu, bertolak ke gurun. Yah, sehingga amat beralasan dalam silsilah agama Abrahamik, surga adalah aliran sungai dengan kecipak air nan jernih sebagai ganjaran sekaligus sublimasi telah menyingkiri keduniawian dan beruzlah di

padang

pasir.

Tentu bisa ditambahkan: surga; dengan “bidadari beribu”, meminjam frasa Chairil. Menghindari perempuan di dunia untuk sekadar ditunda di akhirat kelak? Atau lewat poligini itukah mala, godaan, muasal (dan muara) bangkitnya syahwat, dosa itu dapat dicegah, dengan dilindungi, dinikahi, ditaklukkan?

Dulu, mengacu khotbah Jumat yang saya dengar, saya membayangkan kalau laki-laki mati, di surga ia akan dilayani para bidadari. Pertanyaannya, ke manakah sang istri? Atau sang istri menjelma jadi bidadari? Lalu, apakah perempuan juga akan dilayani para pejantan? Dan yang paling mutakhir dan menyentil, mengapa disebut “para bidadari”, “bidadari-bidadari”, dan bukan cuma “bidadari” yang tunggal. Adakah bila para bidadari itu adalah istri kita di dunia, dengan begitu poligini adalah fitrah kaum Adam di jagat fana juga di alam baka? 

Dan perempuan adalah per-empu-an: merujuk tempat, milik, sang empu; laki-laki. Ia mesti dimiliki atau dieram dalam rumah, tentu karena si empu dari kalangan menengah-atas yang tak perlu tambahan penghasilan dari si istri, si per-empu-an. Ia wajib dijaga agar tak mengusik khusyuk sibuk dan hirukpikuk kita. Ia mesti menunda atau merelakan ‘surganya kini’, dan ‘surganya nanti’ juga diraih dengan rintih dan keikhlasan yang mungkin amat ringkih. Surga yang notabene ia sandang, di bawah telapak kakinya.

Tapi barangkali tak akan ada surga di kaki kawan kita tadi. Ya,

kenya

taan di Daarut Tauhid, pesantren tempatnya nyantri

lima

tahun lampau, membuatnya meninggalkan bahtera perkawinan, menanggalkan status istri (sholehah), dan tak akan ada yang memanggilnya sebagai ibu dan bersujud di ‘surganya’ itu—kecuali kalau ia membeli benih di bank sperma untuk ia erami—serta merelakan surganya tetap dikuasai sang empu.

Tragedy? Ya, dalam arti sebenarnya, bukan cuma sebagai kesedihan. Ia tumbang, kalah, tapi membuktikan, perempuan bukanlah gabus yang dapat diombang-ambingkan lautan dan diempaskan begitu saja di pinggir pantai. Ia memutuskan keluar dari kuldesak citraan-citraan paradoksial perempuan yang membingungkan: sumber kebejatan yang dikhidmati, dipuja dan dihinakan sekaligus, dosa yang dijanjikan di surga.

Saya tetap tak dapat menjangkau kegetiran itu.

Merayakan Ultah dengan “Hijab” dan Tomat

Tuesday, December 19th, 2006

                                                                                                 

Seketika tubuhnya terhuyung. Entah karena saling berdesakan atau badannya yang kurang fit, ia yang mengenakan setelan biru-biru itu pun terkapar. Rekan-rekannya menggotongnya keluar dari barisan yang menghadang

massa

. Ia dibaringkan di belakang barisan itu.

Sejurus kemudian, tanpa dikomando, para jurnalis dan pewarta foto langsung merubungnya. Jepret, jepret, jepret…cahaya blitz sambar-menyambar. Anggota satpam kampus itu mengerang sembari menutup wajahnya. Matanya memicing. Keringat masih deras mengalir dari keningnya. Pucat.   

Sebenarnya tak etis memang: wartawan mengeksploitasi objek beritanya yang menjadi korban. Tapi, ini demonstrasi, di kampus ternama, memakan korban pula. Nilai beritanya pasti tinggi. Sayang, kalau momennya dilewatkan.

Selasa, 19 Desember 2006, UGM memperingati hari jadinya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ulang tahun ke-57 UGM ini pun disambut dengan demo. Aksi dorong masih menjadi ‘menu favorit’ pendemo dan satuan keamanan. Langsung atau tidak, jatuhnya salah seorang awak SKK itu adalah satu akibatnya. Teriakan atau orasi para ‘aktor jalanan’ bahkan telah menginterupsi kuliah (saya) pagi itu.

Dan seperti kebanyakan aksi-aksi turun ke jalan lainnya di kampus ini, demo kali ini pun “terpecah”. Kelompok pertama dari BEM KM-UGM. Tuntutannya, antara lain, transparansi (ejaannya benar

kan

? Soalnya saya sempat lihat salah satu poster yang mereka bawa tertulis “transparasi”. Mungkin saking semangatnya.) keuangan UGM dan demokratisasi  yakni dengan pemilihan rektor langsung. Tak kurang seratus

massa

dikerahkan. Spanduk dan poster diangkat tinggi. Bendera BEM KM melambai-lambai.

Meski demo, syariat tetap wajib dijalankan. Hijab pun dibentangkan. Barisan pendemo yang ikhwan (cowok) dan akhwat (cewek) terpisah. Bila barisan ikhwan ada di depan dan berteriak lantang, para akhwat cukup bernyanyi seraya tepuk tangan di belakang. Sampai saya meninggalkan acara, sekira 11.15 WIB, akhwat-akhwat ini, tentu saja, tak diberi kesempatan menjadi orator dan tampil di “podium”. “Memang orator sama dengan imam sholat?” pikir saya.

Mereka memang membawa sendiri podiumnya, yakni mobil berbak terbuka. Selain untuk tempat orator membakar semangat

massa

, bak mobil itu juga mengangkut aneka perlengkapan demo, seperti replika keranda, bunga-bungaan yang biasanya ditabur di makam, dan tomat. Di atas kap mobil dipacak sebuah TOA besar.

BEM KM memang piawai berdemo. Jam terbang aksinya tinggi. Persiapannya pun matang. Tapi agaknya mereka harus lebih banyak berlatih menyetir kalau tetap nekat membawa mobil untuk keperluan demo. Ya, lantaran si sopir—salah satu awak BEM juga—belum fasih mengemudikan mobil tersebut, sang orator yang ada di atas bak nyaris terjungkal. Perpindahan gigi rupanya kurang mulus. Mobil melaju tiba-tiba dan sontak berhenti seketika. Untung, tak terjadi apa-apa.

Pertengahan acara, kelompok kedua datang. Mereka menamakan diri FPU—Forum Peduli UGM. Nah lho, bukannya UGM itu sendiri sudah berupa singkatan? Kok disingkat lagi. Bahkan aliansi demo pun tetap tak dapat luput dari budaya instan—atawa melanggengkan

gaya

bahasa birokratis khas orba (?). Jumlahnya tak kalah banyak dengan

massa

BEM KM. bedanya, pendemo laki-perempuan berbaur. Tak ada pemisahan. Tampang dan tampilan  Berupaya tampil lebih kreatif, mereka membuka aksi itu dengan menyuguhkan tarian daerah. Maaf, saya lupa dari mana persisnya. Sayangnya, kesenian ini seakan sublimasi kekerasan para pendemo: tari itu adalah tari perang.

FPU dan BEM KM menolak untuk bergabung. Mereka menggelar demo sendiri-sendiri. Padahal tuntutannya tak banyak berbeda. Meski menekankan pada penghapusan berbagai biaya kuliah SPMA, BOP, SKS—sebagai tuntutan pertama, FPU juga menyerukan adanya akuntabilitas dan transparansi keuangan UGM—dalam rilisnya ada di nomor enam. Pemilihan rector langsung tak disebut secara gamblang, hanya “Libatkan mahasiswa dalam setiap pengambilan keputusan” sebagai tuntutan kedua mereka.

Kedua pihak seakan kukuh menggelar ‘hijabnya’ masing-masing. ‘Hijab’ itu terbentang bisa karena perbedaan kepentingan atau isu yang diusung, berseberangannya organisasi, atau tak segarisnya ideologi mereka. “Rapatkan barisan,” seru salah satu korlap aksi. Kelompok

massa

yang dikomandoi serentak saling mengaitkan tangan, membentuk barikade. Dari seberang terdengar, “Awas kawan-kawan, bersiap, lawan ada di depan.” Tak jelas siapa lawan yang dimaksud, apakah Rektor(at)—yang diwakili bangunan Gedung GSP, tempat dilangsungkannya perayaan Dies—atau SKK, atau justru kelompok-demo yang lain itu.

Setelah itu, terjadilah perang orasi. Bukan balas-berbalasan, melainkan perang dalam arti bersaing suara dan volumenya. Ditujukannya sih sama: ke (petinggi dan pengambil kebijakan) UGM, meski yang paling banyak mendengar (langsung) hanya tukang-jaganya.

Para

pe(n)jabat kampus baru tahu detailnya setelah baca koran esok harinya.

Masing-masing kelompok menyerukan tuntutannya via TOA. TOA BEM lebih besar dan nyaring, menengelamkan seruan FPU. Kendati untuk adu ‘pamer otot leher’ orator FPU lebih jago—ya mungkin gara-gara TOA-nya yang tak secanggih milik BEM. Urusan improvisasi orasi pun FPU tampak lebih menguasai panggung. Salah satu orator BEM bahkan sempat gelagapan membaca teks lagu demo yang dipasang di bak mobil. Ia tak hafal syairnya. Suaranya vakum dan diisi dengan jeda lengang sesaat. Dan digantikan teriakan, “Huu…” dari

massa

.

Aksi memuncak ketika kelompok BEM merangsek ke SKK. Pertahanan ‘satpam (kampus) biru’ ini pun jebol. SKK tunggang langgang, yang disusul

massa

pendemo, menuju depan pintu utama GSP. Di sini, para satpam ini langsung sigap membentuk ‘benteng hidup’ lagi.

Seruan dan dorong-dorongan (maksudnya saling dorong, bukan menyerupai atau pura-pura dorong) tak berhenti. Salah satu awak satpam biru tepar. Ia dijemput ambulance. Ketua BEM disemprot beberapa orang rektorat yang ada di lapangan (yang sedang nonton demo, bukan ikut aksi) terkait hal ini. Salah seorang ‘pejabat teras’ Gedung Pusat (ia menolak berkomentar lebih lanjut ketika saya tanya) menuding salah satu kelompok

massa

diisi orang-orang mabuk. “Lihat saja matanya, merah-merah gitu,” ujarnya sinis.

Yah, pikir saya, mata merah

kan

mungkin karena mereka lembur mengebut

persia

pan demo semalam.

Demo belum berhenti, bahkan diisi nyanyi, tepuk-tepuk, dan lonjak-lonjak. Nyaris sulit dibedakan dengan diskotek. Tomat yang tadi saya sebutkan ada di bak mobil BEM, ternyata bukan sisa bawaan dari mobil-angkut sayur, seperti yang saya kira. Tomat itu memang sengaja disiapkan oleh awak BEM. Untuk apa? Untuk menghujani pintu utama GSP—saya mengira mereka meniru revolusioner Prancis yang menghancurkan Bastille.

Nah, di depan pintu itu, persis di tengah berdirilah orang rektorat yang memarahi Ketua BEM tadi. Ia sempat mencegah ‘amuk

massa

’ itu dengan mengangkat kedua tangannya. “Jangan, jangan…,” kata-katanya selanjutnya ditelan gemuruh

massa

. Apa daya, tomat-tomat keburu melayang. Wuing, wuing…teplok, teplok, teplok.

Dinding pintu GSP berlumuran cairan dan biji tomat. Warnanya jadi kemerah-merahan. “Wah, enak ki disambel,” celoteh seorang kawan ‘aktivis’ yang tak ikut demo, cuma nonton. Tak kena bapak itu memang—si pelempar yang enggak cermat, sengaja tidak dikenakan, atau bapak itu punya daya-elak magis?—tapi sekonyong-konyong muncul para bodyguard yang melindungi bapak tersebut. Penjaga ini bukan berseragam serba biru. Setelannya coklat dan selalu menenteng HT. Ia rutin berkomunikasi lewat HT-nya, sesekali juga melalui HP-nya, melaporkan kejadian. Entah kepada siapa.

Massa FPU tak mau kalah. Mereka masih adu kuat dengan SKK. Dorong-dorongan. Riuh. Penuh peluh.

Pukul 11.45 pesan pendek masuk. Seorang kawan mengabari, “ada pembakaran mayat UGM di dekat rektorat”. Mayat UGM? Dibakar? UGM agamanya Hindu ya?

Siang terik. Matahari hendak tepat menyentuh ubun-ubun. Nyala kamera kedap-kedip. Baterenya nyaris habis. Di sayap barat lantai dua GSP, di antara tumpukan kursi perayaan Dies yang tak terpakai, beberapa orang koki duduk termangu melihat ‘perjuangan’ itu. “Saya toh juga berjuang, mencari makan, dengan membuat dan menghidangkan makanan.

Kan

lebih enak kalo Diesnya dirayain dengan makan-makan,” barangkali begitu pikir mereka.

Stomach can not wait,” begitu Cina suatu kali beralasan tak mengadopsi demokrasi. Tapi, bagi para pendemo, perut dan makan siang yang tak gratis itu, bisa menunggu. Demi demokrasi?

Rumah

Monday, December 18th, 2006

Surat tak mencukupi. Kata-kata pun akan tampak datar dan hambar. Michael Bubble, ketimbang menyambangi Paris atau Roma, memilih pulang ke rumah. “I want to go home,” begitu nyanyinya yang ngelangutkan itu.

Saya mencari padanan kata “home” dalam bahasa Indonesia. Rumah? Barangkali kata ini yang paling mendekati, tapi kata ini juga sangat rancu dengan “house”.

Rumah, bukan sebagai konstruksi material; semen, bata, genteng, dst-nya, melainkan sebagai atmosfer, ranah, matra, di mana keluarga, orang-orang yang terbuhul karena ikatan darah bertemu, bersekutu, serta sesekali berseteru.

Di rumah pula saya mulai membangun imaji tentang segala sesuatu “di luar rumah”, yang pada akhirnya, imaji-imaji itu akan mengajak kita bertolak dari rumah, sekaligus menolak rumah. Imaji yang hanya ada di luar rumah.

Imaji itu adalah Hidup, Kehidupan—dengan H atau K, sesuatu yang (dalam imaji saya) asing, penuh gejolak, tak mudah ditebak. Dan saya dengan angkuh akan menurutkan imaji itu, mencarinya, membuktikannya, menaklukkannya. Menaklukkan imaji berarti menelusuri pribadi. Menaklukkan imaji berarti menyingkirkan sangsi. Menaklukkan imaji berarti mendaku diri. Gagah. Pongah. Tapi ternyata, kelak itu menjadi amat gegabah.

Tanah rantau, sedekat apapun, akan meletikkan jarak dari rumah dan memintasi jarak dengan imaji-imaji itu. Maka, bergegaslah, berkemaslah saya menuju terra incognita—tanah tak bertuan di perantauan (setidaknya saya belum menjadi “tuan” di sana). Dan rumah pun (beserta saya yang ada di rumah dulu) jadi kelihatan kecil, terkucil, sepele.

Rantau pun kemudian jadi amat seksi dan lebih eksis ketimbang rumah. Seolah-olah di sinilah dunia, hidup, kehidupan itu sendiri. Ketika berada di rantau seakan-akan kita telah cukup jumawa mendaku diri sebagai sosok mandiri, berdikari, teruji, heroik.

Meski kemudian rantau tetaplah rantau. Ia cuma persinggahan. Ia bukanlah muasal dan muara rerasa kita. Rantau adalah ruang artificial, tempat gincu dipoles dan pantofel akan selalu kita kenakan. Dan keringat serta syahwat—dengan segala bentuknya—pun jadi kawan akrab. Ia jeda panjang, dan di rantau kita akan selalu sambat, berkesah—dengan suara parau.

Kita jera, meski tak pernah mengaku jera padanya. Dan itu seolah setimpal dengan segepok buntalan oleh-oleh yang kita bawa, buah bibir yang menggunjingkan kita kuliah atau sudah “jadi orang” di tanah orang, di perantauan. Heboh yang cuma bisa di temui ketika kita pulang ke rumah.

Rumahlah tempat kita kembali. Rumah ternyata menggugurkan imaji-imaji besar itu. Imaji-imaji yang ternyata terbangun lantaran ketidaksanggupan kita (saya) menghadapi realita, dinamika, dan dilema-dilema dalam sebuah rumah. Dan penolakan kita atasnya melahirkan eskapisme untuk keluar dari rumah, mencari yang ada “di luar rumah”.

Rumah jadi tak menarik dan tak asing, padahal kitalah yang mengasingkan dan menarik diri dari hirukpikuknya. Rumah seolah tanpa gejolak, padahal kitalah yang tak piawai mengendus dan mengelola gejolak itu. Rumah seakan tak mampu merawat dan mendewasakan kita, meski nyatanya kitalah yang menafikan kedewasaan itu—dengan membangun imaji-imaji itu tadi. Rumah yang mulanya kita bayangkan remeh, tanpa kita sadari menjadi wahana menemukan hidup, kehidupan, atau dunia itu sendiri.

Kita rupanya amat ringkih untuk terus menampik rumah. Sesuatu yang tak berjarak ternyata acap membuat kita naïf dan kufur.

Maria Eva dan Eva Green

Tuesday, December 12th, 2006

Dari sebuah milis, saya menerima dialog yang isinya kira-kira seperti ini:

Wartawan (infotainment):          Sudah pernah ditawari menikah (oleh Yahya Zaini)?

Maria Eva:                                Pernah, tapi saya menolak.

Sepintas dari penggalan interview itu (lepas dari sengketa “status” kewartawanan infotainment, berikut acaranya), saya berani menarik simpulan: Maria Eva adalah sosok yang lebih memilih menjadi “madu”, simpanan, atau gundik, dan sebutan lain sejenis, ketimbang diperistri secara sah. Dan barangkali ia takut untuk menjadi istri, tapi maunya sekadar sebagai bini—atawa ”bukan istri namun intim”.

Mungkin dalam benaknya ia berpikir: ”Ngapain susah-susah jadi istri, lha wong dengan jadi simpanan saja (apalagi simpanan anggota DPR) sudah makmur. Lagian juga bisa lebih bebas.” Tentang pilihannya jadi simpenan ketimbang dinikahi, seakan menunjukkan pandangan sebagian awam yang mahfum akan banyaknya perselingkuhan dan zina. Tabiat seperti ini pasti cuma jadi rerasan dan diterima secara wajar. Apalagi  bila yang melakukan adalah pejabat atau

oran

g kaya.

Dan kalau secara halal dan legal, hubungan personal itu kemudian dilanjutkan dalam pernikahan, ya sebenarnya tak jauh beda: tetap jadi gunjingan (objeknya telah berada di ranah publik yang masih diberi catatan sebagai urusan privat). Meski kini, untuk contoh aktual atas kasus YZ—bayangkan jika ia memoligami Maria Eva layaknya Aa Gym, boleh jadi akan lain ceritanya. Rekam-jejak keduanya, dengan masing-masing tabiatnya pada “per-empu-an” itu, tentu akan direspon berbeda. Tapi toh itu tak terjadi. Wajar jika Maria Eva menyatakan menolak untuk dinikahi bila benar kejadian ini semata-mata suatu intrik politik untuk menggusur Yahya Zaini.

Sebagai ”aktris” ia telah bermain cukup ”cemerlang” atas keberhasilannya mendepak YZ dari kursi parlemen—kendati saya belum menyaksikan aksinya itu. Dari sini, opini di Kompas, Pornutopia—yang awalnya ditulis dengan cukup bagus ditutup dengan wanti-wanti yang agak gegabah dan simplifikatif—agar para laki-laki (berkedudukan tinggi) berhati-hati selama melakukan hubungan intim dengan wanita (yang bukan pasangan sahnya). Takutnya, adegan panas tersebut ter/di-rekam oleh ponsel, video, atau karena tersembunyi dan dipakai sebagai amunisi untuk tindakan pemerasan.

Padahal belum tentu juga lelaki selalu dalam posisi dirugikan dan wanitalah yang dengan rekaman persenggamaan itu mengancam akan menyiarkan dan memeras si laki-laki. Hal sebaliknya juga mungkin terjadi.

Tapi yang terjadi dalam kasus tersebut memang tak terlalu jauh dari kenyataan itu. Bahwa lelaki bisa amat dirugikan dengan rekaman persetubuhannya dan rawan akan pemerasan dengan motif apapun. Asumsinya simpel: YZ adalah anggota parlemen dari partai terkuat, dan siapa yang mengenal nama Maria Eva—saya saja baru mendengar namanya setelah kasus ini mencuat.

Dengan demikian, dugaan pemerasan dan trik politik pun tak syak lagi meruyak.

Kalau dugaan itu benar, Maria Eva (atau sang ”penulis skenario”) sungguh cerdas memanfaatkan premis-premis umum yang kadung kita percayai: Bahwa dari persetubuhan (sah atau tidak) yang ”rugi” adalah pihak perempuan,

bahwa bila dimulai dari suka-sama-suka sekalipun, si lelaki lebih punya pretensi dan kuasa untuk melakukan persenggamaan itu. Dari kondisi ”terzaliminya” itu, ia dengan piawai menempatkan dirinya sebagai korban, sebagai pemenuh hasrat seksual awak parlemen dari sebuah partai besar. Apalagi status terhormat wakil rakyat ini amat berkebalikan dengan dirinya yang ”bukan siapa-siapa”.

Dan dari sanalah, dari posisi lemahnya inilah perempuan (setidaknya Maria Eva) dapat dan sah untuk ”menyerangbalik” lelaki (setidaknya kepada Yahya Zaini). Dia kemudian jadi kondang, alih-alih malu, mendapat simpati, pembelaan bodoh dari Ruhut Sitompul dan sok berwacana feminisme—lihat komentarnya yang enggan jadi (istri) yang kedua (untuk ini ia bisa belajar pada Mbak Rini [istri kedua Aa Gym] atau minimal Astrid [biduan ”Jadikan Aku yang Kedua” peniru Bjork itu])

Minimal untuk hal ini, Maria Eva, atau siapa pun di belakangnya, amat luar biasa cerdasnya.

Maria Eva bukanlah Eva Green. Di samping kalah cantik—ini jelas, dan tak perlu dibahas lebih jauh—yang terakhir ini memang aktris memukau. Aktris ini memang pernah berkomitmen tak akan berpose bugil dalam filmnya kendati ia kemudian membatalkan. Tapi keputusan itu toh bukan demi film “14 detikan” atau “3gp-an” seperti Maria Eva itu, melainkan demi The Dreamer-nya Bernardo Bertolucci, atau film seapik

Kingdom

of

Heaven

.

Dan yang paling mutakhir adalah perannya sebagai Vesper Lynd dalam Casino Royale, seri teranyar James Bond. Di sini, Eva Green memang jadi seorang gadis Bond, cewek kesekian agen 007 dan, pasti, beradegan intim dengannya.

Tapi Eva Green bukan cuma bermodal tampang ayu dan tubuh molek layaknya Girl’s Bond kebanyakan. Sebagai akuntan Inggris dalam film Bond ke 22 itu, ia diplot berani menampik Bond dan piawai bermain seni adu gertak dengannya. Simak ketika ia berdebat panjang dengan Bond dalam kereta yang membawa keduanya ke

Montenegro

.

Yang patut diperhatikan, pada ujung cerita film ini, Eva, atau dalam perannya sebagai Vesper, tampaknya tak jauh berbeda dengan si Maria Eva lakukan dalam hal mencelakakan kaum Adam—meski dengan motif, modus, trik, dan akibat berbeda. Dalam sejarah kasus film Bond, agen ini pernah mengalami kejadian persis seperti Yahya Zaini, yaitu dalam From Russia with Love. Ceritanya, sang agen dijebak oleh KGB dengan merekam adegan ranjangnya dengan mata-mata cantik suruhan KGB. Niatnya untuk bikin citra Mi6 cemar dijagat telik sandi internasional.

Di dunia fiktif—dan bukankah parlemen

Indonesia

termasuk di dalamnya, perempuan memang acap distereotipkan sebagai umpan. Atau lelakinya, yang menyediakan diri terkena pancingan? Kalau memang lelaki merasa superior, bahkan dapat berlaku “adil” tentu ia mencari umpan yang sepadan. Dan dari trik Maria Eva dan Eva Green (atau Vesper Lynd) jika saya menjadi korban, saya tahu harus memilih siapa. Kalau anda?

PMS

Monday, December 4th, 2006

PMS. Jangan berpikiran jorok dulu. Ini bukan gejala menjelang siklus bulanan yang diidap kaum Hawa, melainkan dialami oleh siapapun yang pernah menjadi mahasiswa, terutama ketika tanggungan kuliah menipis, sementara jumlah semester (juga umur) kian bertambah. PMS adalah pusing memikirkan skripsi.

Itulah yang saya rasakan saat ini. Tapi enggak persis juga seperti itu, kalau istilah itu semata-mata ditujukan buat saya. Pertama karena saya memang belum skripsi, sehingga lebih tepat disebut sebagai Pusing Mempersiapkan (atau Menunggu?) Skripsi, ketimbang memikirkan. Artinya, ya sedang ancang-ancang mereka-reka judul, mencari-cari masalah sok ilmiah, mengada-adakan pertanyaan, merayu dosen, tanya-tanya senior atau yang telah mendahului skripsi, bolak balik ke perpus dan jurusan, berdiskusi dengan sesama teman seangkatan yang juga tengah PMS (meski lebih banyak cuhat dan berbagi keresahan—takut kalau sedang PMS sendirian) dan tetek bengek lainnya.

Kedua, istilah itu bukan untuk menunjukkan bahwa saya mati-matian berjibaku dengan (persiapan) skripsi saya, tetapi pusing karena skripsi orang lain. Bukan soal isi atau muatannya, melainkan ketika seorang, atau beberapa orang rekan pusing memikirkan atau mengerjakan atau menggarap, bahkan menyelesaikan skripsinya, (jadi M di PMS bisa diisi kata manasuka—terserah konteks pihak yang bersangkutan) saya ikut-ikutan pusing. Ya, pusing melihat kepusingan rekan itu, atau pusing karena saya juga diajak berbagi kepusingan mereka—maksudnya ditanya ini-itu seputar skripsi mereka atau sekadar mendengar keluh kesah yang mereka rasakan selama berskripsia-ria itu. Untung kalau saya pas mengerti dan bisa jawab, atau kala itu saya sedang sok bijak sehingga sanggup memberikan ketenangan (sementara). Tapi di luar itu, jelas, saya pun ikut kena PMS! 

Dobel malah! Karena ketika kecipratan PMS itu, PMS saya yang laten, yang belum saatnya dan coba saya tahan, ikut-ikutan kambuh. Nah!

Dampak PMS ini macam-macam. Seorang rekan yang tengah PMS (untuk contoh ini, M-nya adalah menyelesaikan, karena teori dan data-datanya sudah beres, tinggal disusun) kabarnya sampai tergolek terserang muntaber. Rekan yang lain ada yang stress, hingga dia merasa kehilangan jatidirinya yang semula lembut dan feminin menjadi lebih cablak dan nakal. Sampai-sampai dia skizofrenia membayangkan skripsi sebagai pacar barunya!

Ada

juga yang memilih lari dari PMS (setelah proposalnya ditolak) dan memilih sibuk pacaran.

PMS juga mengakibatkan su’udzon, curiga, berprasangka buruk, terhadap sesama kawan. Budaya rumpi atau gossip juga ikut tumbuh subur akibat PMS ini. Betapa tidak. Ketika seorang teman tampak menenteng-nenteng buku literature, atau rajin ke jurusan bertemu dosen, atau bolakbalik ke perpus (apalagi yang di bagian dalam—untuk konteks Perpus Sospol), atau yang jarang terlihat di kampus (padahal dia sakit atau memang sedang asyik di kampong halamannya) serta merta kawan-kawannya akan langsung “memfitnahnya” tengah mengerjakan skripsi. Bisik-bisik pun meruyak. Segalanya bisa dihubungkan dengan skripsi.

Dan kalaupun benar dia sedang menggarap skripsi, lantas kawan-kawannya ini segera melakukan ghibbah dengan memperbincangkan apa judul skripsinya, siapa dosen pembimbingnya, bagaimana ke-PMS-annya, dst-nya.

Padahal kecenderungan suspicious dan rerasan ini merupakan proyeksi dari ke-PMS-an yang mereka idap. Semakin tinggi stadium PMS-nya, semakin tinggi pula frekuensi dan intensitas untuk  mempergunjingkan orang lain (yang diduga sedang skripsi), kendati belum terbukti bahwa ia yang digunjingkan tersebut memang tengah menyusun skripsi.

Namun yang jelas, salah satu efek samping dari mereka yang terserang PMS adalah menjadi alien di kampus. Ya, karena jarang ke kampus (rajinnya ke perpus atau cuma di kos merutuki nasib[skripsi]nya) kita jadi gagap dengan kampus kita sendiri. Selain karena wajah-wajah mahasiswa baru atau adik angkatan yang jarang kita kenal, teman-teman seangkatan yang terlihat di kampus pun makin bisa dihitung dengan jari—entah sedang PMS juga atawa ngilang karena malu ketinggalan PMS dari rekan-rekannya.

Efek yang tak kalah dahsyatnya adalah PMS membuat mood kita jelek dan jadi malas. Malas ketemu dosen, malas ke perpus, malas konsultasi, diskusi, malas cari data, malas baca, malas menggarap skripsinya! Di titik inilah PMS adalah suatu paradoks dan sebentuk vicious cicle. Satu sisi ia menciptakan mood untuk malas, terutama malas terhadap skripsi itu sendiri. Sementara di sisi yang lainnya, kita tak bisa lepas dari ke-PMS-an itu, bahkan di tengah kondisi malas karena PMS.

Pelepasannya, ya, ada yang merayakan PMS bersama-sama itu tadi, atau cari hal-hal baru di luar akademik sekalian—meski rawan kebablasan. Kebablasan untuk terus PMS tanpa menilik skripsi itu sendiri. Dengan demikian PMS adalah suatu hal yang absurd. Dan seorang pengidap PMS adalah seorang Sisifus.

Seperti halnya seorang eksistensialis totok yang melihat absurditas sebagai satu-satunya jalan untuk menggapai eksistensi, PMS pun menjadi jalur tunggal mahasiswa untuk eksis, bahkan untuk lebih dari itu: melepas status kemahasiswaannya alias lulus. 

Entahlah, apakah banyak yang percaya bahwa ketika suatu objek diangkat sebagai wacana atau diskursus dan secara kontinyu diwacanakan, hal tersebut akan membuat wacana itu sendiri tak mengalami stagnasi. Artinya, ketika wacana skripsi itu terus-menerus diangkat dan di(re)produksi, maka akan mempengaruhi perkembangan skripsi sekaligus si pembuatnya.

Ya, artinya pergunjingan itu, sebagai manifestasi PMS, selain dapat mendorong seseorang pengaju skripsi untuk terus berjibaku dan memperjuangkan skripsinya agar cepat selesai (untuk membuktikan omongan kawan-kawannya, atau sebaliknya, karena malu dirasani), juga sama bermanfaatnya bagi si perumpi. Saya hakulyakin mereka yang bisik-bisik tentang kawannya yang sedang skripsi itu, juga ketar-ketir menyiapkan skrispsinya.

                                                                        *

Skripsi memang memusingkan. Setidaknya itulah yang dialami—atau yang setidaknya saya lihat dari—rekan-rekan di kampus. Seorang mahasiswa senior yang pasti keberatan jika namanya saya kutip di sini sampai-sampai harus mengubah judul skripsinya berkali-kali. Akibatnya, mahasiswa Komunikasi ini mesti mempelajari bidang di luar studi formalnya: psikologi. Ya, psikologi sang dosen pembimbing skripsi. Karena dengan cara demikianlah, ia mendapat ”restu” dan jalan bebas hambatan untuk meneruskan dan atau menyelesaikan skripsinya.

Di kampus saya, konon, skripsi sampai meminta tumbal ”jiwa” sang skriptornya. Syahdan, seorang mahasiswa tingkat akhir tengah berupaya keras merampungkan skripsinya. Setiap hari ia berkonsultasi dengan dosennya. Entah bagaimana ceritanya, si dosen itu tiba-tiba pergi. Skripsi si mahasiswa tak selesai. Tapi, saban sore di tengah kampus yang sepi, si mahasiswa ini masih rutin bertandang ke kampus, mondar-mandir di sejumlah tempat yang sama, celingukan. Matanya nanar. Tak ada suara dari mulutnya. Ia linglung. Kabarnya, di situlah ia mencari dosen pembimbing skripsinya. Dia rupanya kepingin lulus. Entah ke mana, saya jarang lagi melihatnya (atau karena saya jarang ke kampus? PMS?).

Tapi dari kepusingan dan ”tumbal-tumbal jiwa” orang lain skripsi juga bisa lahir skripsi. Suatu siang seorang mahasiswi seangakatan dan sejurusan dengan saya berbagi ke-PMS-annya. Sebetulnya enggak ada yang aneh dari yang ia ceritakan, PMS-nya wajar seperti PMS-PMS yang lain. Cuma, topik skripsinya itu yang bikin saya terhenyak: ”bla-bla-bla (sensor—takut nanti dijiplak, juga karena saya tak terlalu ingat) gempa Jogja”. Nah, tepat pada term ”gempa Jogja” itulah yang membuat saya sedikit takjub.

Rupanya, hikmah gempa tempo hari tak hanya dirasakan para korban, atau pemerintah, melainkan juga mahasiswa. Selain menambah pahala dan mengisi waktu lowong (dengan jadi relawan), atau sebagai sasaran KKN dan mengurangi beban kredit (untuk mahasiswa “akselerasi KKN”), gempa dengan segala akibatnya jadi lahan basah untuk diteliti. Dari kepusingan para korban yang menanti rumahnya dibangun, atau dari tragedi yang melayangkan ribuan nyawa itu pun, mahasiswa menikmati secuil untungnya: mengail tema skripsi!

                                                                        *

Jadi tua itu pasti, tapi lulus (kapan) itu pilihan! Begitu yang pernah saya dengar. Tapi seorang teman berkata: tanpa pusing, pengerjaan skripsi akan kurang afdol. Begitulah. Apakah semakin tua, kita semakin wajib untuk pusing? Atau pusing, seperti juga lulus, cuma sekadar pilihan?

Barangkali celoteh saya ini juga bagian dari kepusingan itu, dari ke-PMS-an itu.

PMS-lah sebelum kita tak lagi menjadi mahasiswa. Biar enggak nyesel.[]