Surga (&) Perempuan
Thursday, December 21st, 2006Di mana letak surga? Di telapak kaki ibu; perempuan yang melahirkan kita itu. Lalu, di mana surga bagi perempuan (sholehah)? Di tangan laki-laki, rupanya.
Saya tak sanggup membayangkan rautnya ketika menuliskan kesahnya di milis itu. Nadanya getir. Pedih. Ia seorang akhwat yang memilih untuk “tidak sholehah”. Ia memang sempat “tercuci otaknya”, menganggap bahwa poligami—tepatnya poligini—merupakan panacea, obat manjur, suatu jalan keluar, semacam emergency exit—kata dai kondang kita. Untuk menjawab membludaknya jumlah cewek ketimbang cowok, untuk melindungi janda, untuk menyetop zina dan prostitusi, membentengi dari penyakit kelamin, dsb-nya.
Di pesantrennya, poligini bukan sekadar dibolehkan, tapi dikampanyekan. Poligini (atau polibini?) telah dipropagandakan.
Para ustad—yang jelas laki-laki—senantiasa menyerukan untuk menjadi sebaik-baik laki-laki, eh ikhwan, dari segi apapun: finansial, intelektual, strata sosial, dst-nya, agar sanggup menikahi perempuan lebih dari satu. Sementara, para akhwat didakwahi untuk merelakan suaminya menikah lagi, dimadu, menjadi ‘istri tua’…kalau mau menjadi perempuan yang solehah. Surga, sampai di sini, diimingkan kepada para akhwat ini. Dan laki-laki pun seolah dapat tiket-terusan sekali jalan: ‘surga dunia’ alias syahwat dan surga betulan.
Tentu tak ada pilihan bebas di sini. Tak ada rational choice. Kalau mau menjadi perempuan sholehah dan menggapai surga, relakanlah suami menikah lagi. Bercerai memang halal, kendati “arasy Allah akan terguncang karenanya”. Dan untuk menerima suami berpoligini adalah suatu tragedi. Pilih yang mana, coba?
Saya bukan perempuan, dan saya sulit menjangkau kegetiran itu.
Ia bersama santri muslimah lainnya seakan dibuat merasa bersalah bila tidak menerima poligini, dibuat merasa tak kuat imannya, tak ikhlas, tak solehah. “
Kalau sudah begini, apakah kami bisa betul-betul bebas memilih?” ratapnya. Ia kemudian memilih untuk tidak menikah, tidak menjalankan “separuh agama”, bersiap dengan rerasan ia bukan umat Muhammad.
“Kelemahan,” kata Shakespare lewat mulut Hamlet, “namamu adalah perempuan.” Kelemahankah? Saya tak tahu pasti, tapi barangkali pilihan itu bisa dibaca sebaliknya. Tapi mungkin juga, hegemoni, yang akut dan awet, mendekam di dalam
sana . Baik ketika perempuan itu sendirian menghadapi ‘tawaran’ poligini dengan opsi-opsi yang berkecamuk dan berbenturan dari berbagai segi, maupun ketika dirinya telah terbuhul dalam satu ikatan poligini bersama sesama-istri-yang-lain sang suami. Dengan kata lain, para istri poliginis yang
tampa k kompak dan nrima itu barangkali telah beradaptasi, bahkan berdamai, dengan ketidakadilan. “Ini mirip dengan perbudakan,” tulisnya.
Seekstrem itukah? Sekali lagi, saya bukan perempuan, dan juga tak tahu isi kepala orang-orang poliginis. Sebatas meredam geliat ‘bawah perut’? Saya tak yakin dan menampik itu. Bukannya relasi personal-emosional laki-perempuan serta pernikahan bukan semata-mata
ur usan di balik sarung dan kelambu? Dan tentang ketidakadilan? Ho..ho.. kalau Jean Marais bisa mewejangi Minke (dalam epik Bumi Manusia Pramoedya A. Toer) untuk “adillah sejak dalam pikiran”, maka bisakah kita adil sejak dalam hati?
Adil adalah kata yang lurus, kukuh, rigid. Kata yang mengandaikan totalitas. Utuh. Kata yang sudah ‘selesai’ dan tak dapat dirongrong. Untuk adil kita butuh yang diadili, sang pengadil seperti hakim atau wasit, saksi-saksi. Bisakah satu individu merangkap semua posisi itu? Padahal, intimitas dua
oran g lawan-jenis juga bukan suatu yang bisa divonis seperti di sidang peradilan.
Dan perempuan agaknya dikucilkan dari kata ini. Sejarah misogyny; kebencian terhadap wanita, terentang panjang sejak jaman Yunani hingga Bekasi kini, dari Yahudi sampai Islam, sejak era Gerwani sampai Teh Ninih. “Di mana tak ada perempuan, ke tempat itulah kita harus pergi,” kata Apa Sisoes, biarawan Mesir di abad ke-4, dalam ‘dongeng’ Goenawan Mohamad yang ia nukil dari buku The Body and Society-nya sejarawan Univ. Princeton, Peter Brown. Di kisah lain, seorang rahib mencelupkan jubahnya ke darah bangkai wanita dan berharap baunya membuat ia tak berfantasi tentang perempuan. Bahkan ketika menggendong ibunya, sang rahib sampai membuntal tangannya agar tak menyentuh si ibu. “Daging semua perempuan adalah api.”
Aliran ortodoks Yahudi mengenal kol isha, di mana lelaki dilarang mendengar nyanyi perempuan. Perempuan haram memakai baju tanpa lengan, celana ketat, potongan krah yang rendah.
Ada juga syariat halacha, seorang istri wajib menutup rambutnya. Perempuan pun harus ‘dihias’, dengan perhiasan; gelang, kalung, anting—yang mulanya sebagai jimat, manna, untuk menutup lubang-lubang di tubuh yang berpotensi sebagai gerbang setan. Ketika mens ia mesti dipingit di rumah, sebab ia membawa najis dan mala.
Beda dengan Rangga yang “lari ke pantai”, untuk menghindari mala tersebut para rahib, para laki-laki itu, bertolak ke gurun. Yah, sehingga amat beralasan dalam silsilah agama Abrahamik, surga adalah aliran sungai dengan kecipak air nan jernih sebagai ganjaran sekaligus sublimasi telah menyingkiri keduniawian dan beruzlah di
padang pasir.
Tentu bisa ditambahkan: surga; dengan “bidadari beribu”, meminjam frasa Chairil. Menghindari perempuan di dunia untuk sekadar ditunda di akhirat kelak? Atau lewat poligini itukah mala, godaan, muasal (dan muara) bangkitnya syahwat, dosa itu dapat dicegah, dengan dilindungi, dinikahi, ditaklukkan?
Dulu, mengacu khotbah Jumat yang saya dengar, saya membayangkan kalau laki-laki mati, di surga ia akan dilayani para bidadari. Pertanyaannya, ke manakah sang istri? Atau sang istri menjelma jadi bidadari? Lalu, apakah perempuan juga akan dilayani para pejantan? Dan yang paling mutakhir dan menyentil, mengapa disebut “para bidadari”, “bidadari-bidadari”, dan bukan cuma “bidadari” yang tunggal. Adakah bila para bidadari itu adalah istri kita di dunia, dengan begitu poligini adalah fitrah kaum Adam di jagat fana juga di alam baka?
Dan perempuan adalah per-empu-an: merujuk tempat, milik, sang empu; laki-laki. Ia mesti dimiliki atau dieram dalam rumah, tentu karena si empu dari kalangan menengah-atas yang tak perlu tambahan penghasilan dari si istri, si per-empu-an. Ia wajib dijaga agar tak mengusik khusyuk sibuk dan hirukpikuk kita. Ia mesti menunda atau merelakan ‘surganya kini’, dan ‘surganya nanti’ juga diraih dengan rintih dan keikhlasan yang mungkin amat ringkih. Surga yang notabene ia sandang, di bawah telapak kakinya.
Tapi barangkali tak akan ada surga di kaki kawan kita tadi. Ya,
kenya taan di Daarut Tauhid, pesantren tempatnya nyantri
lima tahun lampau, membuatnya meninggalkan bahtera perkawinan, menanggalkan status istri (sholehah), dan tak akan ada yang memanggilnya sebagai ibu dan bersujud di ‘surganya’ itu—kecuali kalau ia membeli benih di bank sperma untuk ia erami—serta merelakan surganya tetap dikuasai sang empu.
Tragedy? Ya, dalam arti sebenarnya, bukan cuma sebagai kesedihan. Ia tumbang, kalah, tapi membuktikan, perempuan bukanlah gabus yang dapat diombang-ambingkan lautan dan diempaskan begitu saja di pinggir pantai. Ia memutuskan keluar dari kuldesak citraan-citraan paradoksial perempuan yang membingungkan: sumber kebejatan yang dikhidmati, dipuja dan dihinakan sekaligus, dosa yang dijanjikan di surga.
Saya tetap tak dapat menjangkau kegetiran itu.