Archive for January, 2007

Warga Jalur Dua

Sunday, January 28th, 2007

Saban
hari, nyaris dalam dua bulan ini, saya jadi warga Jogja yang menggunakan jasa
bis
kota. Entah
itu Aspada, Kopata, atau lain-lainnya, tapi yang jelas harus jalur dua. Hanya
jalur ini yang mengantarkan saya sedekat mungkin dengan tempat tujuan.

 

Selain
lebih terasa nuansa klangenannya, naik bis
kota adalah suatu pelajaran disiplin
tersendiri. Jam berangkat dari kos, supaya dapat bis dan tiba di tujuan tak
terlambat, mesti tepat. Juga agar tak kesusu. Santai, sampai dengan selamat.

 

 

Meski,
displin di bis
kota
punya paradoksnya sendiri. Sopir, yang mengendali bis
kota
supaya baik jalannya, nyatanya sering melaju seenaknya. Penumpang pun kadang
tak lagi jadi raja. Ia bisa diturunkan di mana saja, atau disuruh pindah ke bis
lain, ketika sopir dan kernetnya meminta. Bis kadang muter ke luar jalur untuk
cari penumpang lebih banyak. Atau kalau sopirnya malas, di sore hari bis bisa
balik kandang sebelum waktunya, kendati masih ada tanggungan penumpang.

 

 

Asyiknya,
di dalam bis, ada kesempatan buat ngelamun, merenung, lihat-lihat jalan dan
pemandangan, dll-nya. Bahkan misuh atau nggrundel pada sopir atau kondektur,
atau pengamen. Di jalur dua, pengamen favoritnya mangkal di kawasan Jl. Suroto,
Kotabaru. Bukan cuma nyanyi, tapi juga baca puisi. Lumayan nyeni. Wajahnya,
meski ada yang sok ngepunk, tetap ramah. Simpatik.

 

Ada cukup ruang reflektif dalam satu jok biskota yang kita duduki.

 

Kadang
kita tahu tujuan kita, tapi lewat mana saja sebelum sampai tujuan itu, kita tak
pernah tahu. Persis seperti naik bis
kota. Ada rute yang
sudah ditentukan, tapi terkadang sang sopir membawa kita keluar jalur.

 

Pada
sopir kita bertumpu, senakal apa pun sopir itu mengemudi. Karena seberingas
apapun ia membawa bis, toh kita sampai juga. Memang, sesekali, sebelum sampai
tujuan, kita diturunkan. Atau dioper ke bis yang lain. Setidaknya, kita lebih
dekat dengan tujuan kita. Tak jarang sopir berbaik hati seperti ketika saya
meminjam koran yang ia beli untuk saya baca duluan.

 

Seringkali
dalam bis penumpangnya penuh. Berdesak-desakan.
Ada yang tujuannya sama, ada yang beda.Ada yang jauh, ada yang
dekat. Tapi tak pernah seluruh penumpang satu bis turun bersamaan di tempat
tujuan—kecuali carteran.

 

 

 

Dalam
bis, penumpang rupa-rupa warnanya. Muda, tua, sendiri, berpasangan, rombongan,
kosongan atau dengan banyak bawaan. Macam-macam juga solah tingkahnya.
Ada yang cuek, yang
pura-pura tidur, atau yang peduli dengan penumpang lain.

 

 

Ada yang baik hati menyilakan yang lain
duduk, seperti di buku PMP dulu.

Ada
juga yang buat dosa, dengan mencopet atau memanfaatkan kesempatan ketika
antar-penumpang berdesakan untuk “bersinggungan” dengan yang bukan muhrimnya.

 

Hidup itu
seperti roda yang berputar. Hidup itu seperti putaran ban bis
kota. Juga seperti biskota itu sendiri. Bersahaja, liar, sumpek
tapi dengannyalah kita menjangkau tujuan. Apapun, di manapun itu.
 


Air Berkah PDAM dan Gadis Berjilbab Merah

Monday, January 22nd, 2007

Barusan saya mengikuti prosesi jamasan kereta di keraton. Pengunjungnya berjubel. Mulai dari bocah, muda-mudi, ihwan-akhwat, bapak-bapak, simbok-simbok, bule, hingga simbah-simbah, dan tentunya para abdi dalem.

Tak ketinggalan para juru warta dan jurnalis foto. Dari nasional sampai kelas Jogja TV. Dari yang bawa tripot dan kamera panggul sampai yang cuma sangu kamera digital dengan batere kedap-kedip—seperti saya.

Sebelum kereta dijamas—dibersihkan dengan air bercampur kembang setaman, lalu digosok sampai mengilat, diucapi rapal-rapal tertentu—penonton sudah meringsek. Sebagian menenteng botol plastik bekas. Ada juga yang mencangking ember. Mereka berburu air sisa jamasan.

Sebuah truk tangki bertuliskan PDAM Tamantirto menderu memasuki halaman museum-kereta keraton. “Banyune asat (airnya kering),” kata seorang abdi dalem, tentang alasan keraton mendatangkan bantuan dari PDAM itu. Air dari mobil inilah yang kemudian dipakai untuk memandikan kereta wingit itu.

Bahkan sebelum abdi dalem mulai menjamas, orang-orang sudah meringsek ke arah kereta. “Mangkih mawon, Mbok. Mangkih-mangkih,” kata salah satu abdi. “Nanti saja, Mbok. Nanti-nanti.” Perintah santun itu ditelan kerumunan. Massa cuek. Di tengah prosesi itu, massa menghambur—termasuk mereka yang telah uzur. Air jamasan diambil paksa, kertas pembersihnya direbut, kembang campuran air jamasan dicomot tanpa ampun. “Lumayan, direwangi adoh-adoh mrene.”

Kendati dengan saling balap dan cara-cara kalap, semua tujuannnya ngalap berkah. Salah satunya adalah perempuan, tepatnya akhwat, dengan jilbab merah. Bajunya, kaus lengan panjang agak ketat, juga merah. Bercelana jeans.Wajahnya putih. Bedaknya tebal, tapi tak sanggup menutupi parasnya yang sayu—meski dimasam-masamkan.

Dia membekap botol air minum. Penuh. Di dalamnya beberapa helai kembang terapung-apung. “Percaya, Mbak?” sapa saya, iseng. “Namanya juga orang Jawa,” sahutnya tetap dengan raut cemberut.

Dia tak kuasa menampik dua pemuda yang minta sedikit airnya itu untuk cuci muka. Air pun dikucurkan ke tangan mereka yang langsung mereka pakai untuk membasuh wajah. Lantas, gadis berjilbab merah itu menawarkan ke saya. “Enggak, enggak,” jawab saya.

Tak jauh dari situ, sisa air (PDAM) untuk jamasan yang ditaruh dalam dua tong, dipakai  oleh anak-anak untuk main air, mandi, ciprat-cipratan. Wah, pasti banyak berkah mengalir untuk mereka.

PMS bag.2

Monday, January 22nd, 2007

Skripsi, Antara SIP dan RIP

Kalau
film-film

Hollywood

suka bikin film sekuel,
saya tak mau kalah dengan melanjutkan kisah seputar PMS, yang rupanya banyak
sisi yang belum terungkap, terutama setelah tulisan tersebut dirilis.

 

Semalam
saya menerima sms dari seorang rekan. Menanyakan keikutsertaan saya dalam studi-tour
jurusan ke

Jakarta

.
“Gak ikut,” jawab saya. Iseng-iseng, saya bertanya balik tentang rencananya
semester depan. “Skripsilah, mau apalagi,” tulisnya.

 

Mau
apalagi!!! Menggarap skripsi agaknya semata-mata bukan karena demi mengejar
titel SIP, tetapi untuk mengisi waktu. Ketimbang nganggur atau luntang lantung
ketika beban kredit kuliah (nyaris) habis.

 

Ketika
sudah sukses mengegolkan judul, biasanya para “skriptor” keburu berpuas hati.
Yah, setidaknya selangkah lebih maju ketimbang mereka yang masih meraba-raba
tema, pontang panting ngebut kuliah, atau PMS-nya yang masih menginjak stadium
awal alias belum terlalu akut.

 

Sementara
di sisi lain adagium “Yang mulai skripsi duluan belum tentu kelar dan lulus
duluan”, tampaknya masih jadi jargon yang kuat untuk menenteramkan diri ketika
rekan-rekan yang lain telah melaju dengan skripsinya. Ungkapan itu bisa amat
legitimatif bagi diri sendiri untuk tak terburu-buru memulai mengerjakan
skripsi.

 

Dan berbagai
alasan yang dapat menyebabkan anggapan
itu pun disodorkan: tema nggak fokus lah, dosennya sibuk lah, metodologinya
harus ganti, atau lahan yang diteliti ternyata bermasalah—enggak sesuai
harapan—atau enggak menyetujui penelitian kita. Ketika skripsi mentok di tengah
jalan karena sejumlah faktor itu, para pengusung jargon itu pun akan berseru:
“Makanya jangan kesusu. Santailah…”

 

Tapi toh
yang menyelesaikan, atau nyaris merampungkan, skripsi dan meraih gelar SIP
memang kian mudah bernafas lega, dan dapat beristirahat dengan tenang—meski
cuma sebentar. Karena, setelah skripsi rampung dan kita lulus serta diwisuda,
kita akan disambut oleh orang tua, keluarga, pasangan kita (kecuali yang
jomblo), pasar kerja, atau minimal perut kita sendiri, yang mengusung spanduk
“Selamat datang di dunia nyata.”

 

Lalu SIP
pun tak lagi penting. Cuma jadi simbol kredensial pemenuh syarat-syarat formal
yang kelak bakal kucel dan kumal. Dan tatkala SIP itu bukan lagi jadi sesuatu
yang menakjuban, bagaimana dengan nasib skripsi kita. Dapat A atau bukan,
paling mentereng ia akan nangkring di perpustakaan fakultas. Paling berguna, ia
dikutip atau dijiplak adik kelas—dengan kondisi mengenaskan: sampul koyak
moyak, jilidan lepas, tapi isinya siapa lagi yang peduli.

 

Apesnya,
terselip di tumpukan skripsi di perpustakaan jurusan. “Boleh dipinjam gak,
Mas?” saya membayangkan ada yang hendak meminjam skripsi kita, dan si penjaga
akan enteng menjawab, “ndak boleh. Milik jurusan.” Lalu berdebulah itu skripsi,
dan kelak kalau perpus sudah tak muat, skripsi kita akan diungsikan ke gudang,
ditimbun, lantas kalau gudang penuh, ia hanya berujung di lapak loakan.

 

Skripta
manent. Tulislah agar abadi. Ya, ia memang kekal, tapi ia seakan telah mati
dengan patok nisan bertuliskan, Rest in Peace. Padahal, ketika mengerjakannya
pun (sebagian dari) kita tak pernah bisa beristirahat dengan tenang.

Sakit

Friday, January 12th, 2007

Mengapa tercipta penyakit? Mengapa manusia, juga makhluk hidup yang lain—konon, mengalami sakit? Mengapa tuhan menciptakan penyakit?

Beberapa hari terakhir ini saya acap menemui orang-orang yang sakit, terserang penyakit. Seolah penderitaan di dunia ini belum lengkap kalau tidak ada penyakit. Bukannya keadaan dunia tidak kurang mengenaskan tanpa penyakit, tanpa tubuh yang sakit, yang terserang penyakit? Perang, kemiskinan, dusta, kebencian, korupsi…

Barangkali bukan pada tuhan saya bertanya; tapi pada manusia itu sendiri. Pada kita sendiri, kita mesti menengok mengapa tubuh tergerogoti kanker, tumor, terserang darah tinggi atau darah rendah, terganggu jantung atau ginjalnya.

Dahulu, kita mendengar orang bisa gentur bertapa berhari-hari, puasa atau begadang bermalam-malam, atau mutih, tanpa kena penyakit macam-macam. Tak ada obat, tak ada dokter juga balai penyembuhan dan aneka rupa terapi. Memang ada tabib, tapi itu buat mereka yang tergolong mampu dan penyakit yang diidap termasuk sudah sangat akut. Kalupun mesti diobati cukup bertandang ke belakang rumah, petik daun ini, comot kembang itu, ambil buah atau biji pohon tertentu, lalu diramu, dan dioles atau diminum si sakit. Cukup seperti itu. Hasilnya? Dijamin, cespleng!

Tak juga dikenal penyakit dengan nama yang serbaneka dan canggih. Tidak juga diketahui penyebabnya, fase-fasenya, kapan diprediksi makin parah dan seterusnya. Tak ada informasi yang secara gamblang menerangkan apa dan bagaimana sesuatu bisa bersarang di tubuh seseorang.

Sekarang, penyakit bukannya makin sedikit malah tambah banyak. Padahal ilmu kedokteran semakin maju. Obat-obatan terus ditemukan. Dokter-dokter kian cakap dan piawai. Juru medis dengan kemampuan mumpuni juga tak berhenti ditelurkan. Sarjana kedokteran saban tahun lulus ribuan. Peralatan pengobatan pun ikut mengalami perkembangan yang tak kalah pesat. Lalu, apanya yang kurang?

Yang kurang, dan terus menerus kurang, adalah manusia. Seperti halnya kekurangan atas keingintahuan yang tak mandek diidap manusia, yang menghasilkan berbagai ilmu dan temuan, manusia juga tak pernah merasa cukup untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai eksperimen.

Ya, percobaan, bahwa dengan melakukan ini, mengonsumsi itu, tak ada pengaruh apa pun bagi dirinya. Padahal, setiap inci tubuh manusia adalah mahakarya, keunikan. Bila satu inci ini saja mengalami “sabotase”, terganggu, tentu itu kontribusi besar bagi upaya reparasi atasnya. Setiap ada kerusakan akan diupayakan perbaikannya. Termasuk ketika ikhtiar perbaikan tersebut juga menimbulkan efek sampingnya. Tapi, ya, itu tadi, resiko pun juga jadi bagian atas reparasi itu. Ia sudah dipertimbangkan dan juga sudah diusahakan penangkalnya. Begitu seterusnya, inci demi inci mengalami kelainan, dijelajahi, direparasi, sampai muncul satu deviasi, lantas diperbaiki lagi. Lagi dan lagi.

Manusia merasa dengan  perbaikan terus-menerus, dengan segala kecanggihan kemampuan medik, setiap penyimpangan yang ada di tubuh akhirnya ditemukan, disembuhkan, dan pada akhirnya habis. Dianggapnya, tak ada lagi yang bisa mengutak-atik keasyikannya melanglang buana dengan citarasanya, dengan coba-cobanya. Manusia makin tak segan untuk mencicipi, bahkan yang sebelumnya tak lumrah dan tak boleh dicicipi. Semua dihabisi. Manusia adalah omnivora sejati, apalagi dengan ketakaburannya untuk dapat menaklukkan segala devian yang menyerang dirinya. Dari sini manusia juga kian leluasa mencipta. Dengan jaminan teratasinya segala  resiko, untuk memenuhi langlang buana keserakahannya, manusia melahirkan pemanis, penyedap rasa, pewarna, pengawet, rasa-rasa artifisal.

Meski kemudian yang terjadi jaminan itu di luar kemampuan manusia. Klasifikasi dan definisi medik agaknya tak cukup menanggulangi deviasi-deviasi yang  entah imun, atau berbiak makin variatif sebagai impak upaya reparasi itu. Segala teori dan ilmu pengetahuan kedokteran tidak lagi bisa menampung luberan segala rupa ihwal bidang kajinya. Selalu ada istilah; tak diketahui penyebabnya, belum ada obatnya, dst-nya. Makin tahu segala sesuatu, rupanya manusia makin tak tahu apa-apa.

Maka, sejalan dengan penjelahan tanpa henti atas tubuh, atas saraf, otot, pembuluh darah, organ-organ, dll-nya, saban itu pula muncul devian-devian baru. Semakin banyak obat, tapi makin banyak pula nama penyakit ditemukan, semakin bertambah istilah jenis-jenis penyebabnya. Dan kerap pula di antara itu, di antara para pengidap itu, ada yang terenggut. Selalu ada yang tak tersembuhkan, selalu ada peluang tak tersembuhkan. Di sini, ilmu pasti—ilmu kedokteran itu, dengan segala diagnosa, prediksi-prediksinya—jadi sesuatu yang nisbi. Ia tak lebih sekadar ikhtiar.

Manusia, dengan segala itikad, ikhtiar dan kendablekan dan keangkuhannya, pun terbukti rapuh. Deviasi-deviasi itu di luar kemampuannya. Kecanggihan kemampuan manusia memang belum diketahui batasnya, tapi ia terbukti terbatas.Dan dari keterbatasan manusia inilah penyakit demi penyakit terus menyembul. Untuk menunjukkannya, untuk mengingatkannya, supaya manusia lekas dan terus berupaya. Cuma itu.

ordinary Dog

Thursday, January 11th, 2007

Ayo, tumpahkan kepalamu, ada  anjing di dalamnya. Anjing yang mesti bersedia diajak pentas topeng monyet, sebagai pemain tambahan atau figuran dari seekor Sarimin, cikal bakal atau sejawat manusia itu.

Biarkan kini anjing itu tak lagi garang menyalak, karena dia bukan lagi pengawas atau bahkan tukang jaga yang siap menghalau bromocorah. Dia memang anjing ganas, parasnya buas, taring mengilat, dan dari lidah dan ludahnya yang terkatung di sudut mulut, orang pun tahu ia anjing yang galak. Tapi itu dulu, sebelum terlalu banyak kawan-kawannya yang main film kartun.

Biarkan ia kini melompat-lompat dalam suatu sirkus. Dan ditonton orang ramai. Membuat mereka tertawa-tawa, bertempik sorak. Menghibur mereka. Dalam suatu kontes anjing sejagat ia ingin menggonggong, tapi yang keluar hanya salak yang parau. Serak.  Tapi itu yang mereka semua dengar. Dari cuping telinganya sendiri, ia mendengar larik demi larik sebuah lagu. Tembang lawas. Dan dalam bahasa anjing, bunyinya begini:

Came in from a rainy Thursday on the avenue

Throught I heard you talking softly

I turned on the lights, the TV, and the radio

Still I can’t escape the ghost of You

What has happened to it all…

Crazy, some’d say

Wheres is the life that I recognize

Gone away…

But I wont cry for yesterday, there’s an ordinary world

Somehow I have to find…

And as I try to make my way, to the ordinary world,

I will learn to survive…

Passion or coincidence once prompted You to say

“Pride will tear us a both apart,”

Well now pride’s gone out to window, cross the rooftops, run away

Left me in the vacuum of my heart

What is happening to me?

Crazy, some’d say

Where is my friend when I need You most

Gone away…

Papers in the roadside tell of suffering and greed

Feared today, forgot tomorrow

Oh, here besides the news of holy war and holy need

Ours is just a little sorrowed talk

Just blown away…

And I dont cry for yesterday, there’s an ordinary world

Somehow I have to find

And as I try to make my way, to the ordinary world,

I will learn to survive…

Every world is my world…

Any world is my world…

Anjing hafal dengan sendirinya lagu milik Duran Duran yang diputar saban hari oleh sang majikan. Majikan yang bangun pagi-pagi, lalu membuka hp-nya, pergi buru-buru ke tempat kerja, pusing sepanjang siang, dan pulang mencangking penat. Malamnya ia akan habis sendirian. Dan di dalam kepala, si anjing menjaga dengan setia, menjaga agar dunia si majikan biasa-biasa saja. Dengan belajar, learn, dengan ngelmu. Dan ngelmu dalam satu lagu Macapat, “iku kalakone kanthi laku.” Lelaku, lumaku, laku,.. payu?