Air Berkah PDAM dan Gadis Berjilbab Merah
Barusan saya mengikuti prosesi jamasan kereta di keraton. Pengunjungnya berjubel. Mulai dari bocah, muda-mudi, ihwan-akhwat, bapak-bapak, simbok-simbok, bule, hingga simbah-simbah, dan tentunya para abdi dalem.
Tak ketinggalan para juru warta dan jurnalis foto. Dari nasional sampai kelas Jogja TV. Dari yang bawa tripot dan kamera panggul sampai yang cuma sangu kamera digital dengan batere kedap-kedip—seperti saya.
Sebelum kereta dijamas—dibersihkan dengan air bercampur kembang setaman, lalu digosok sampai mengilat, diucapi rapal-rapal tertentu—penonton sudah meringsek. Sebagian menenteng botol plastik bekas. Ada juga yang mencangking ember. Mereka berburu air sisa jamasan.
Sebuah truk tangki bertuliskan PDAM Tamantirto menderu memasuki halaman museum-kereta keraton. “Banyune asat (airnya kering),” kata seorang abdi dalem, tentang alasan keraton mendatangkan bantuan dari PDAM itu. Air dari mobil inilah yang kemudian dipakai untuk memandikan kereta wingit itu.
Bahkan sebelum abdi dalem mulai menjamas, orang-orang sudah meringsek ke arah kereta. “Mangkih mawon, Mbok. Mangkih-mangkih,” kata salah satu abdi. “Nanti saja, Mbok. Nanti-nanti.” Perintah santun itu ditelan kerumunan. Massa cuek. Di tengah prosesi itu, massa menghambur—termasuk mereka yang telah uzur. Air jamasan diambil paksa, kertas pembersihnya direbut, kembang campuran air jamasan dicomot tanpa ampun. “Lumayan, direwangi adoh-adoh mrene.”
Kendati dengan saling balap dan cara-cara kalap, semua tujuannnya ngalap berkah. Salah satunya adalah perempuan, tepatnya akhwat, dengan jilbab merah. Bajunya, kaus lengan panjang agak ketat, juga merah. Bercelana jeans.Wajahnya putih. Bedaknya tebal, tapi tak sanggup menutupi parasnya yang sayu—meski dimasam-masamkan.
Dia membekap botol air minum. Penuh. Di dalamnya beberapa helai kembang terapung-apung. “Percaya, Mbak?” sapa saya, iseng. “Namanya juga orang Jawa,” sahutnya tetap dengan raut cemberut.
Dia tak kuasa menampik dua pemuda yang minta sedikit airnya itu untuk cuci muka. Air pun dikucurkan ke tangan mereka yang langsung mereka pakai untuk membasuh wajah. Lantas, gadis berjilbab merah itu menawarkan ke saya. “Enggak, enggak,” jawab saya.
Tak jauh dari situ, sisa air (PDAM) untuk jamasan yang ditaruh dalam dua tong, dipakai oleh anak-anak untuk main air, mandi, ciprat-cipratan. Wah, pasti banyak berkah mengalir untuk mereka.