PMS bag.2
Skripsi, Antara SIP dan RIP
Kalau Hollywood suka bikin film sekuel,
film-film
saya tak mau kalah dengan melanjutkan kisah seputar PMS, yang rupanya banyak
sisi yang belum terungkap, terutama setelah tulisan tersebut dirilis.
Semalam Jakarta .
saya menerima sms dari seorang rekan. Menanyakan keikutsertaan saya dalam studi-tour
jurusan ke
“Gak ikut,” jawab saya. Iseng-iseng, saya bertanya balik tentang rencananya
semester depan. “Skripsilah, mau apalagi,” tulisnya.
Mau
apalagi!!! Menggarap skripsi agaknya semata-mata bukan karena demi mengejar
titel SIP, tetapi untuk mengisi waktu. Ketimbang nganggur atau luntang lantung
ketika beban kredit kuliah (nyaris) habis.
Ketika
sudah sukses mengegolkan judul, biasanya para “skriptor” keburu berpuas hati.
Yah, setidaknya selangkah lebih maju ketimbang mereka yang masih meraba-raba
tema, pontang panting ngebut kuliah, atau PMS-nya yang masih menginjak stadium
awal alias belum terlalu akut.
Sementara
di sisi lain adagium “Yang mulai skripsi duluan belum tentu kelar dan lulus
duluan”, tampaknya masih jadi jargon yang kuat untuk menenteramkan diri ketika
rekan-rekan yang lain telah melaju dengan skripsinya. Ungkapan itu bisa amat
legitimatif bagi diri sendiri untuk tak terburu-buru memulai mengerjakan
skripsi.
Dan berbagai
alasan yang dapat menyebabkan anggapan
itu pun disodorkan: tema nggak fokus lah, dosennya sibuk lah, metodologinya
harus ganti, atau lahan yang diteliti ternyata bermasalah—enggak sesuai
harapan—atau enggak menyetujui penelitian kita. Ketika skripsi mentok di tengah
jalan karena sejumlah faktor itu, para pengusung jargon itu pun akan berseru:
“Makanya jangan kesusu. Santailah…”
Tapi toh
yang menyelesaikan, atau nyaris merampungkan, skripsi dan meraih gelar SIP
memang kian mudah bernafas lega, dan dapat beristirahat dengan tenang—meski
cuma sebentar. Karena, setelah skripsi rampung dan kita lulus serta diwisuda,
kita akan disambut oleh orang tua, keluarga, pasangan kita (kecuali yang
jomblo), pasar kerja, atau minimal perut kita sendiri, yang mengusung spanduk
“Selamat datang di dunia nyata.”
Lalu SIP
pun tak lagi penting. Cuma jadi simbol kredensial pemenuh syarat-syarat formal
yang kelak bakal kucel dan kumal. Dan tatkala SIP itu bukan lagi jadi sesuatu
yang menakjuban, bagaimana dengan nasib skripsi kita. Dapat A atau bukan,
paling mentereng ia akan nangkring di perpustakaan fakultas. Paling berguna, ia
dikutip atau dijiplak adik kelas—dengan kondisi mengenaskan: sampul koyak
moyak, jilidan lepas, tapi isinya siapa lagi yang peduli.
Apesnya,
terselip di tumpukan skripsi di perpustakaan jurusan. “Boleh dipinjam gak,
Mas?” saya membayangkan ada yang hendak meminjam skripsi kita, dan si penjaga
akan enteng menjawab, “ndak boleh. Milik jurusan.” Lalu berdebulah itu skripsi,
dan kelak kalau perpus sudah tak muat, skripsi kita akan diungsikan ke gudang,
ditimbun, lantas kalau gudang penuh, ia hanya berujung di lapak loakan.
Skripta
manent. Tulislah agar abadi. Ya, ia memang kekal, tapi ia seakan telah mati
dengan patok nisan bertuliskan, Rest in Peace. Padahal, ketika mengerjakannya
pun (sebagian dari) kita tak pernah bisa beristirahat dengan tenang.