Sakit

Mengapa tercipta penyakit? Mengapa manusia, juga makhluk hidup yang lain—konon, mengalami sakit? Mengapa tuhan menciptakan penyakit?

Beberapa hari terakhir ini saya acap menemui orang-orang yang sakit, terserang penyakit. Seolah penderitaan di dunia ini belum lengkap kalau tidak ada penyakit. Bukannya keadaan dunia tidak kurang mengenaskan tanpa penyakit, tanpa tubuh yang sakit, yang terserang penyakit? Perang, kemiskinan, dusta, kebencian, korupsi…

Barangkali bukan pada tuhan saya bertanya; tapi pada manusia itu sendiri. Pada kita sendiri, kita mesti menengok mengapa tubuh tergerogoti kanker, tumor, terserang darah tinggi atau darah rendah, terganggu jantung atau ginjalnya.

Dahulu, kita mendengar orang bisa gentur bertapa berhari-hari, puasa atau begadang bermalam-malam, atau mutih, tanpa kena penyakit macam-macam. Tak ada obat, tak ada dokter juga balai penyembuhan dan aneka rupa terapi. Memang ada tabib, tapi itu buat mereka yang tergolong mampu dan penyakit yang diidap termasuk sudah sangat akut. Kalupun mesti diobati cukup bertandang ke belakang rumah, petik daun ini, comot kembang itu, ambil buah atau biji pohon tertentu, lalu diramu, dan dioles atau diminum si sakit. Cukup seperti itu. Hasilnya? Dijamin, cespleng!

Tak juga dikenal penyakit dengan nama yang serbaneka dan canggih. Tidak juga diketahui penyebabnya, fase-fasenya, kapan diprediksi makin parah dan seterusnya. Tak ada informasi yang secara gamblang menerangkan apa dan bagaimana sesuatu bisa bersarang di tubuh seseorang.

Sekarang, penyakit bukannya makin sedikit malah tambah banyak. Padahal ilmu kedokteran semakin maju. Obat-obatan terus ditemukan. Dokter-dokter kian cakap dan piawai. Juru medis dengan kemampuan mumpuni juga tak berhenti ditelurkan. Sarjana kedokteran saban tahun lulus ribuan. Peralatan pengobatan pun ikut mengalami perkembangan yang tak kalah pesat. Lalu, apanya yang kurang?

Yang kurang, dan terus menerus kurang, adalah manusia. Seperti halnya kekurangan atas keingintahuan yang tak mandek diidap manusia, yang menghasilkan berbagai ilmu dan temuan, manusia juga tak pernah merasa cukup untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai eksperimen.

Ya, percobaan, bahwa dengan melakukan ini, mengonsumsi itu, tak ada pengaruh apa pun bagi dirinya. Padahal, setiap inci tubuh manusia adalah mahakarya, keunikan. Bila satu inci ini saja mengalami “sabotase”, terganggu, tentu itu kontribusi besar bagi upaya reparasi atasnya. Setiap ada kerusakan akan diupayakan perbaikannya. Termasuk ketika ikhtiar perbaikan tersebut juga menimbulkan efek sampingnya. Tapi, ya, itu tadi, resiko pun juga jadi bagian atas reparasi itu. Ia sudah dipertimbangkan dan juga sudah diusahakan penangkalnya. Begitu seterusnya, inci demi inci mengalami kelainan, dijelajahi, direparasi, sampai muncul satu deviasi, lantas diperbaiki lagi. Lagi dan lagi.

Manusia merasa dengan  perbaikan terus-menerus, dengan segala kecanggihan kemampuan medik, setiap penyimpangan yang ada di tubuh akhirnya ditemukan, disembuhkan, dan pada akhirnya habis. Dianggapnya, tak ada lagi yang bisa mengutak-atik keasyikannya melanglang buana dengan citarasanya, dengan coba-cobanya. Manusia makin tak segan untuk mencicipi, bahkan yang sebelumnya tak lumrah dan tak boleh dicicipi. Semua dihabisi. Manusia adalah omnivora sejati, apalagi dengan ketakaburannya untuk dapat menaklukkan segala devian yang menyerang dirinya. Dari sini manusia juga kian leluasa mencipta. Dengan jaminan teratasinya segala  resiko, untuk memenuhi langlang buana keserakahannya, manusia melahirkan pemanis, penyedap rasa, pewarna, pengawet, rasa-rasa artifisal.

Meski kemudian yang terjadi jaminan itu di luar kemampuan manusia. Klasifikasi dan definisi medik agaknya tak cukup menanggulangi deviasi-deviasi yang  entah imun, atau berbiak makin variatif sebagai impak upaya reparasi itu. Segala teori dan ilmu pengetahuan kedokteran tidak lagi bisa menampung luberan segala rupa ihwal bidang kajinya. Selalu ada istilah; tak diketahui penyebabnya, belum ada obatnya, dst-nya. Makin tahu segala sesuatu, rupanya manusia makin tak tahu apa-apa.

Maka, sejalan dengan penjelahan tanpa henti atas tubuh, atas saraf, otot, pembuluh darah, organ-organ, dll-nya, saban itu pula muncul devian-devian baru. Semakin banyak obat, tapi makin banyak pula nama penyakit ditemukan, semakin bertambah istilah jenis-jenis penyebabnya. Dan kerap pula di antara itu, di antara para pengidap itu, ada yang terenggut. Selalu ada yang tak tersembuhkan, selalu ada peluang tak tersembuhkan. Di sini, ilmu pasti—ilmu kedokteran itu, dengan segala diagnosa, prediksi-prediksinya—jadi sesuatu yang nisbi. Ia tak lebih sekadar ikhtiar.

Manusia, dengan segala itikad, ikhtiar dan kendablekan dan keangkuhannya, pun terbukti rapuh. Deviasi-deviasi itu di luar kemampuannya. Kecanggihan kemampuan manusia memang belum diketahui batasnya, tapi ia terbukti terbatas.Dan dari keterbatasan manusia inilah penyakit demi penyakit terus menyembul. Untuk menunjukkannya, untuk mengingatkannya, supaya manusia lekas dan terus berupaya. Cuma itu.

Leave a Reply