Warga Jalur Dua
Saban
hari, nyaris dalam dua bulan ini, saya jadi warga Jogja yang menggunakan jasa
bis kota. Entah
itu Aspada, Kopata, atau lain-lainnya, tapi yang jelas harus jalur dua. Hanya
jalur ini yang mengantarkan saya sedekat mungkin dengan tempat tujuan.
Selain
lebih terasa nuansa klangenannya, naik bis kota adalah suatu pelajaran disiplin
tersendiri. Jam berangkat dari kos, supaya dapat bis dan tiba di tujuan tak
terlambat, mesti tepat. Juga agar tak kesusu. Santai, sampai dengan selamat.
Meski,
displin di bis kota
punya paradoksnya sendiri. Sopir, yang mengendali bis kota
supaya baik jalannya, nyatanya sering melaju seenaknya. Penumpang pun kadang
tak lagi jadi raja. Ia bisa diturunkan di mana saja, atau disuruh pindah ke bis
lain, ketika sopir dan kernetnya meminta. Bis kadang muter ke luar jalur untuk
cari penumpang lebih banyak. Atau kalau sopirnya malas, di sore hari bis bisa
balik kandang sebelum waktunya, kendati masih ada tanggungan penumpang.
Asyiknya,
di dalam bis, ada kesempatan buat ngelamun, merenung, lihat-lihat jalan dan
pemandangan, dll-nya. Bahkan misuh atau nggrundel pada sopir atau kondektur,
atau pengamen. Di jalur dua, pengamen favoritnya mangkal di kawasan Jl. Suroto,
Kotabaru. Bukan cuma nyanyi, tapi juga baca puisi. Lumayan nyeni. Wajahnya,
meski ada yang sok ngepunk, tetap ramah. Simpatik.
Ada cukup ruang reflektif dalam satu jok biskota yang kita duduki.
Kadang
kita tahu tujuan kita, tapi lewat mana saja sebelum sampai tujuan itu, kita tak
pernah tahu. Persis seperti naik bis kota. Ada rute yang
sudah ditentukan, tapi terkadang sang sopir membawa kita keluar jalur.
Pada
sopir kita bertumpu, senakal apa pun sopir itu mengemudi. Karena seberingas
apapun ia membawa bis, toh kita sampai juga. Memang, sesekali, sebelum sampai
tujuan, kita diturunkan. Atau dioper ke bis yang lain. Setidaknya, kita lebih
dekat dengan tujuan kita. Tak jarang sopir berbaik hati seperti ketika saya
meminjam koran yang ia beli untuk saya baca duluan.
Seringkali
dalam bis penumpangnya penuh. Berdesak-desakan.Ada yang tujuannya sama, ada yang beda.Ada yang jauh, ada yang
dekat. Tapi tak pernah seluruh penumpang satu bis turun bersamaan di tempat
tujuan—kecuali carteran.
Dalam Ada yang baik hati menyilakan yang lain Ada
bis, penumpang rupa-rupa warnanya. Muda, tua, sendiri, berpasangan, rombongan,
kosongan atau dengan banyak bawaan. Macam-macam juga solah tingkahnya.Ada yang cuek, yang
pura-pura tidur, atau yang peduli dengan penumpang lain.
duduk, seperti di buku PMP dulu.
juga yang buat dosa, dengan mencopet atau memanfaatkan kesempatan ketika
antar-penumpang berdesakan untuk “bersinggungan” dengan yang bukan muhrimnya.
Hidup itu
seperti roda yang berputar. Hidup itu seperti putaran ban biskota. Juga seperti biskota itu sendiri. Bersahaja, liar, sumpek
tapi dengannyalah kita menjangkau tujuan. Apapun, di manapun itu.