Archive for April, 2007

20 Tahun ke Atas

Tuesday, April 24th, 2007

Saya
bukan Jamie Cullum. Jari-jari saya cuma
meloncat dari satu tuts ke tuts yang lain di keyboard komputer–bukan
menari-nari dengan lincah di bilah-bilah piano. Tapi, celotehnya itu, dalam Twentysomething yang nyinyir sekaligus
optimis itu, membuat keluh saya–yang sama, yang datang dan pergi tiba-tiba
sekali waktu—sedikit kambuh.

 

After years of expensive
education,
a car full of books and anticipation,
I’m an expert on Shakespeare and that’s a hell of a lot
but the world don’t need scholars
as much as I thought.

 

Saya tak
membayar kelewat mahal untuk kuliah—“cuma” 500 ribu per semester plus jaminan kesehatan 30 ribu. Saya juga tak (belum) punya mobil, apalagi
yang sarat oleh buku. Buku saya, yang
cuma beberapa itu, teronggok di rak kamar atau tercecer entah di mana. Tak ada
yang tentang Shakespeare—maka saya tak tahu (apalagi jago) tentangnya dan
karyanya. Saya cuma mengunyah sedikit-sedikit saja: sedikit Jokpin, sedikit
Goenawan, sedikit Pram, dan sedikit yang lainnya.

Tapi barangkali
saya ikut melakukan antisipasi—dalam bahasa lain: was-was. Dan saya
pun terprovokasi: dunia memang tak butuh banyak orang terpelajar.
Meski
banyak orang yang memilih untuk terlebih dahulu belajar. Saya juga tak tahu
persis untuk apa setelah itu.

 

Maybe I’ll go travelling for a
year,
finding myself or start a career.
I could work for the poor though I’m hungry for fame
we all seem so different but we’re just the same.

Ya, padahal
banyak pilihan selain jadi “terpelajar”. Plesiran (istilah lain: mengulur
masa-masa sekolah, fase menuju terpelajar) sambil tinggal menyambangi ATM 24
jam, menengadahkan tangan dari transfer kiriman. Atau, menguber karier (memulai
karier hanya cocok bagi Negara yang sudah mantap menyiapkan lapangan kerja bagi
warganya, dan si warga tinggal memilih akan mulai, start, kapan) tentu dengan “berkorban” terlebih dahulu menjadi
orang terpelajar dengan gelar kredensial.

 

Dan
kadang kita tak bisa membedakan apakah “karier keterpelajaran”  ini karena didorong ancaman tak-terpenuhinya hajat
hidup dan cemas jadi miskin atau memenuhi kepatutan umum: jadi sarjana, jadi
“orang”, jadi makmur–di mata tetangga di kampong, di gunjingan kawan-kawan
lama, di layar friendster, di katalog almamater… Tenar.

 

Maybe I’ll go to the gym, so I don’t
get fat,
aren’t things more easy with a tight six pack?
Who knows the answers? Who do you trust?
I can’t even separate love from lust.

 

Saya tak
pernah punya perut kotak-kotak. Saya kurus, tak pernah mampir ke gym.
Semua jadi mudah tanpa perut gendut?
Oke, barangkali ini pengorbanan yang dapat kita tebus di umur 30-40-an nanti:
tubuh tambun, perut buncit, plus timbunan kolesterol, juga sakit jantung,
ginjal, darah tinggi. Ketika itu kita baru mengeluh dan bertandang rutin ke
pusat kebugaran.

 

Dan saat
itu apakah kita semakin kesulitan memilah cinta dan nafsu… ?

Maybe I’ll just fall in love that could
solve it all,
philosophers say that that’s enough,
there surely must be more.

Cinta
yang dapat memecahkan segalanya? Kalau kita lamur mana itu cinta, mana itu
nafsu; jangan-jangan yang bisa menyelesaikan segalanya ya cuma nafsu… Kecuali
kita masih setia menonton

asmara


sepasang muda-mudi di drama-drama remaja TV: tak ada nafsu, cinta melulu—yang
suci, yang abadi, yang nggombali. Sambil mencaci, kita menginsyafi: kita temukan
cinta (dan sebagian diri kita di masa lalu) di situ….

Barangkali
hanya senandung di pagi hari, sembari tergesa ke kampus atau ke tempat
kerja:

 Love ain’t the answer nor is work,

the truth eludes me so much it hurts.
But I’m still having fun and I guess that’s the key,
I’m a twenty something and I’ll keep being me.

 
I’m a twenty something.
Let me lie in, Leave me alone.
I’m a twenty something.

Lamat-lamat
saya ingat kata seorang senior, “Kalau sebelum 20 kamu enggak kiri, kamu enggak
punya hati. Kalau setelah 20 kamu enggak kanan, kamu enggak punya otak.” Saya ragu. Dan yang tinggal hanya alunan
terumpet yang menyayat dalam lagu itu, seperti satir yang terjadi sehari-hari, pada
suatu duapuluh-sekian umur kita. Juga nanti. Getir yang kita rayakan—dengan
menertawakan diri. Sendiri, sembunyi-sembunyi.

Kalau Cho Salah Satu Praja Itu…

Friday, April 20th, 2007

Arena Counter Strike Cho Seung-hui adalah
kampusnya. Ia membabat habis 33 nyawa. Cho adalah mahasiswa tingkat akhir
Sastra Inggris. Dengan dua pucuk Glock di tangannya, ia kemudian nampang di
seluruh koran dunia. “Sekarang tanganmu berlumuran dengan darah kental yang tak
akan bisa hilang,” begitu ia berwasiat.

 

Cho tak
bersekolah di IPDN. Ia anak seorang tukang cuci, keturunan

Korea warga
Amerika. Hidup pas-pasan di pinggir kota. Ia tak disekolahkan untuk kelak
menjadi pangreh praja berbadan tegap dengan serenteng lencana. Merasa
dilecehkan sekitarnya, amarahnya meletus.

 

Saya tak
tahu apabila Cho di IPDN. Di sini, aksi keji berlangsung diam-diam.
Pelan-pelan. Lebih dari 30 jiwa melayang sejak kampus dibuka. Penyebabnya, konon,
adalah ulah oknum. Selebihnya: bungkam. Dan kemudian kita mendengar doktrin
yang ngeri itu: jika tak dapat menyentuh hati junior, sentuhlah ulu hatinya!

 

Dan
bayangkanlah ketika Cho adalah salah satu junior itu, ketika ia “disentuh” ulu
hatinya, adakah ia juga akan memberondongkan kemuakannya secara membabi
buta? Dengan rasa geram? Dengan senyum
puas?

 

Pun
sebaliknya: adakah praja-praja itu tak punya benih “depresi akut” atau
“skizofrenia” layaknya Cho selain tubuh yang lebam dan memar? Atau mereka
keburu tersungkur dalam kubur sebelum sempat “berekspresi” seperti Cho?

 

Holden
Caulfield, dalam Catcher in The Rye karya
JD. Salinger—buku yang sempat dilarang di Amerika karena dinilai kelewat vulgar
dan telah mengilhami sejumlah kasus pembunuhan–, menganggap sekolah adalah
sarang kemunafikan. Ia keluar dari sana setelah tak betah diminta melakukan
tetek bengek yang tak disukainya di sekolah: menghafal ini, mengerjakan itu,
mesti dapat nilai segini, harus lulus pelajaran itu…

 

Ekspresi
rasa muak dapat memuncak ke titik paling ekstrim. Dalam Elephant, sebuah flm yang diilhami kisah nyata garapan Gus van
Sant, dua orang pelajar mengeksekusi kawan-kawan dan gurunya laiknya bermain
senapan pinball. Tujuannya: “memberi pelajaran”. Sambil cengengesan, keduanya
menyebarkan maut tanpa rasa was-was; di ujung selasar kelas, di perpustakaan,
di kantin …Kematian pun datang seperti bagian dari jadwal pelajaran hari itu.

Lalu pada
Dead Poet Society, si murid—kalau
tidak salah dipernakan Ethan Hawke—sampai bunuh diri karena niatnya menjadi
dramawan dihalangi sang ayah—yang lebih pengen anaknya jadi pengacara—dan dianggap
mencoreng citra sekolah yang masuk jajaran Ivy League, semacam ‘geng’
sekolah-sekolah bergengsi di Amerika.

Di sini,
drama-drama itu terjadi sehari-hari, dan tak kalah ngeri: saweran buat beli
bocoran jawaban Unas, gantung diri karena tagihan uang seragam, guru tempeleng
muridnya, plagiasi skripsi, stres mengejar target nilai….

 

Sekolah
telah menjadi algojo itu sendiri, sebelum ia melahirkan para algojo. Eksekutor
bagi keberadaban—hakikat tertinggi yang ingin dicapai dengan didirikannya
sekolah.

 

Tentu
jauh lebih banyak mereka yang hidup normal, bahkan jadi lebih beradab, ketika
bersekolah, tapi bisakah segala abnormalitas yang berkaitan dengan institusi
pendidikan selalu dianggap perkecualian? 

 

Sementara,
kesadaran untuk tak bersekolah adalah pilihan yang ganjil. Tak lumrah.