20 Tahun ke Atas
Saya
bukan Jamie Cullum. Jari-jari saya cuma
meloncat dari satu tuts ke tuts yang lain di keyboard komputer–bukan
menari-nari dengan lincah di bilah-bilah piano. Tapi, celotehnya itu, dalam Twentysomething yang nyinyir sekaligus
optimis itu, membuat keluh saya–yang sama, yang datang dan pergi tiba-tiba
sekali waktu—sedikit kambuh.
After years of expensive
education,
a car full of books and anticipation,
I’m an expert on Shakespeare and that’s a hell of a lot
but the world don’t need scholars
as much as I thought.
Saya tak
membayar kelewat mahal untuk kuliah—“cuma” 500 ribu per semester plus jaminan kesehatan 30 ribu. Saya juga tak (belum) punya mobil, apalagi
yang sarat oleh buku. Buku saya, yang
cuma beberapa itu, teronggok di rak kamar atau tercecer entah di mana. Tak ada
yang tentang Shakespeare—maka saya tak tahu (apalagi jago) tentangnya dan
karyanya. Saya cuma mengunyah sedikit-sedikit saja: sedikit Jokpin, sedikit
Goenawan, sedikit Pram, dan sedikit yang lainnya.
Tapi barangkali
saya ikut melakukan antisipasi—dalam bahasa lain: was-was. Dan saya
pun terprovokasi: dunia memang tak butuh banyak orang terpelajar. Meski
banyak orang yang memilih untuk terlebih dahulu belajar. Saya juga tak tahu
persis untuk apa setelah itu.
Maybe I’ll go travelling for a
year,
finding myself or start a career.
I could work for the poor though I’m hungry for fame
we all seem so different but we’re just the same.
Ya, padahal
banyak pilihan selain jadi “terpelajar”. Plesiran (istilah lain: mengulur
masa-masa sekolah, fase menuju terpelajar) sambil tinggal menyambangi ATM 24
jam, menengadahkan tangan dari transfer kiriman. Atau, menguber karier (memulai
karier hanya cocok bagi Negara yang sudah mantap menyiapkan lapangan kerja bagi
warganya, dan si warga tinggal memilih akan mulai, start, kapan) tentu dengan “berkorban” terlebih dahulu menjadi
orang terpelajar dengan gelar kredensial.
Dan
kadang kita tak bisa membedakan apakah “karier keterpelajaran” ini karena didorong ancaman tak-terpenuhinya hajat
hidup dan cemas jadi miskin atau memenuhi kepatutan umum: jadi sarjana, jadi
“orang”, jadi makmur–di mata tetangga di kampong, di gunjingan kawan-kawan
lama, di layar friendster, di katalog almamater… Tenar.
Maybe I’ll go to the gym, so I don’t
get fat,
aren’t things more easy with a tight six pack?
Who knows the answers? Who do you trust?
I can’t even separate love from lust.
Saya tak
pernah punya perut kotak-kotak. Saya kurus, tak pernah mampir ke gym.
Semua jadi mudah tanpa perut gendut?
Oke, barangkali ini pengorbanan yang dapat kita tebus di umur 30-40-an nanti:
tubuh tambun, perut buncit, plus timbunan kolesterol, juga sakit jantung,
ginjal, darah tinggi. Ketika itu kita baru mengeluh dan bertandang rutin ke
pusat kebugaran.
Dan saat
itu apakah kita semakin kesulitan memilah cinta dan nafsu… ?
Maybe I’ll just fall in love that could
solve it all,
philosophers say that that’s enough,
there surely must be more.
Cinta asmara
yang dapat memecahkan segalanya? Kalau kita lamur mana itu cinta, mana itu
nafsu; jangan-jangan yang bisa menyelesaikan segalanya ya cuma nafsu… Kecuali
kita masih setia menonton
sepasang muda-mudi di drama-drama remaja TV: tak ada nafsu, cinta melulu—yang
suci, yang abadi, yang nggombali. Sambil mencaci, kita menginsyafi: kita temukan
cinta (dan sebagian diri kita di masa lalu) di situ….
Barangkali
hanya senandung di pagi hari, sembari tergesa ke kampus atau ke tempat
kerja:
Love ain’t the answer nor is work,
the truth eludes me so much it hurts.
But I’m still having fun and I guess that’s the key,
I’m a twenty something and I’ll keep being me.
I’m a twenty something.
Let me lie in, Leave me alone.
I’m a twenty something.
Lamat-lamat
saya ingat kata seorang senior, “Kalau sebelum 20 kamu enggak kiri, kamu enggak
punya hati. Kalau setelah 20 kamu enggak kanan, kamu enggak punya otak.” Saya ragu. Dan yang tinggal hanya alunan
terumpet yang menyayat dalam lagu itu, seperti satir yang terjadi sehari-hari, pada
suatu duapuluh-sekian umur kita. Juga nanti. Getir yang kita rayakan—dengan
menertawakan diri. Sendiri, sembunyi-sembunyi.
October 28th, 2008 at 1:42 am
hy, Give something for help the hungry people from Africa and India,
I made this blog about them:
at http://tinyurl.com/5hu74e