Kalau Cho Salah Satu Praja Itu…

Arena Counter Strike Cho Seung-hui adalah
kampusnya. Ia membabat habis 33 nyawa. Cho adalah mahasiswa tingkat akhir
Sastra Inggris. Dengan dua pucuk Glock di tangannya, ia kemudian nampang di
seluruh koran dunia. “Sekarang tanganmu berlumuran dengan darah kental yang tak
akan bisa hilang,” begitu ia berwasiat.

 

Cho tak
bersekolah di IPDN. Ia anak seorang tukang cuci, keturunan

Korea warga
Amerika. Hidup pas-pasan di pinggir kota. Ia tak disekolahkan untuk kelak
menjadi pangreh praja berbadan tegap dengan serenteng lencana. Merasa
dilecehkan sekitarnya, amarahnya meletus.

 

Saya tak
tahu apabila Cho di IPDN. Di sini, aksi keji berlangsung diam-diam.
Pelan-pelan. Lebih dari 30 jiwa melayang sejak kampus dibuka. Penyebabnya, konon,
adalah ulah oknum. Selebihnya: bungkam. Dan kemudian kita mendengar doktrin
yang ngeri itu: jika tak dapat menyentuh hati junior, sentuhlah ulu hatinya!

 

Dan
bayangkanlah ketika Cho adalah salah satu junior itu, ketika ia “disentuh” ulu
hatinya, adakah ia juga akan memberondongkan kemuakannya secara membabi
buta? Dengan rasa geram? Dengan senyum
puas?

 

Pun
sebaliknya: adakah praja-praja itu tak punya benih “depresi akut” atau
“skizofrenia” layaknya Cho selain tubuh yang lebam dan memar? Atau mereka
keburu tersungkur dalam kubur sebelum sempat “berekspresi” seperti Cho?

 

Holden
Caulfield, dalam Catcher in The Rye karya
JD. Salinger—buku yang sempat dilarang di Amerika karena dinilai kelewat vulgar
dan telah mengilhami sejumlah kasus pembunuhan–, menganggap sekolah adalah
sarang kemunafikan. Ia keluar dari sana setelah tak betah diminta melakukan
tetek bengek yang tak disukainya di sekolah: menghafal ini, mengerjakan itu,
mesti dapat nilai segini, harus lulus pelajaran itu…

 

Ekspresi
rasa muak dapat memuncak ke titik paling ekstrim. Dalam Elephant, sebuah flm yang diilhami kisah nyata garapan Gus van
Sant, dua orang pelajar mengeksekusi kawan-kawan dan gurunya laiknya bermain
senapan pinball. Tujuannya: “memberi pelajaran”. Sambil cengengesan, keduanya
menyebarkan maut tanpa rasa was-was; di ujung selasar kelas, di perpustakaan,
di kantin …Kematian pun datang seperti bagian dari jadwal pelajaran hari itu.

Lalu pada
Dead Poet Society, si murid—kalau
tidak salah dipernakan Ethan Hawke—sampai bunuh diri karena niatnya menjadi
dramawan dihalangi sang ayah—yang lebih pengen anaknya jadi pengacara—dan dianggap
mencoreng citra sekolah yang masuk jajaran Ivy League, semacam ‘geng’
sekolah-sekolah bergengsi di Amerika.

Di sini,
drama-drama itu terjadi sehari-hari, dan tak kalah ngeri: saweran buat beli
bocoran jawaban Unas, gantung diri karena tagihan uang seragam, guru tempeleng
muridnya, plagiasi skripsi, stres mengejar target nilai….

 

Sekolah
telah menjadi algojo itu sendiri, sebelum ia melahirkan para algojo. Eksekutor
bagi keberadaban—hakikat tertinggi yang ingin dicapai dengan didirikannya
sekolah.

 

Tentu
jauh lebih banyak mereka yang hidup normal, bahkan jadi lebih beradab, ketika
bersekolah, tapi bisakah segala abnormalitas yang berkaitan dengan institusi
pendidikan selalu dianggap perkecualian? 

 

Sementara,
kesadaran untuk tak bersekolah adalah pilihan yang ganjil. Tak lumrah.

 

Leave a Reply