Pangling

Saban
hari saya ketemu orang lain.

Ada

yang saya kenal, ada yang tidak.

Ada

yang sudah saya kenal, ada yang
belum, dan ada yang saya ajak kenalan—atau sebaliknya—ketika sekali-dua bersua.
Kenal: tahu namanya, tahu siapa dan bagaimana dia, serta latar identitasnya.

Ada

yang saya kenal lama, ada yang barusan.
Meski saya juga tak tahu batas antara kenal lama dan kenal baru saja. Dan
lama-tidaknya saya kenal orang-orang itu juga bukan jaminan untuk mengukur
kadar kekenalan saya dengannya.

 

Bisa saya
katakan setiap orang yang kita kenal datang dari masa lalu. Setiap ”kini” akan
berganti dengan masa sesudahnya dan dengan demikian, seketika, ia akan jadi
masa lalu. Dan setelah perkenalan, atau masa-masa di mana kita kenal dengan
seseorang, adalah sebuah upaya membangun ruang-ruang relasi untuk dihuni
bersama.

 

Ada

yang formal dan artificial, tapi ada pula yang grapyak
dan sumanak tanpa pretensi apa pun.

Ada

yang “beku” seperti nama dan
alamat sejawat yang cuma kita catat di daftar kontak di ponsel, tapi, layaknya
friendster, ada juga yang begitu liat, tak henti menggembung dan mempertemukan
kita dengan lebih banyak kenalan. Meski, sekali lagi, elastis-tidaknya,
besar-kecilnya ruang itu, sama sekali bukan indikasi untuk menyigi kadar kekenalan
kita.

 

Panta rhei. Dunia mengalir, dan semua yang
ada di dalamnya klintir. Semua
berubah, tak ada yang persis sama di dalamnya kini dan nanti. Termasukkah
orang-orang yang kita kenal?

 

Barangkali, saya tak berani memastikan, tapi ruang relasi
itu tentu saja berubah, tak selalu tetap. Ketika sekian waktu ruang relasi itu
kembang-kempis atau jadi empuk atau mengeras, dan saya bertemu dengan orang
yang telah saya kenal sebelumnya, di sana pula saya acap nyasar hingga sampai di arena di mana keraguan, tapi sekaligus ikhtiar
untuk melengkapi ceceran-ceceran memori akan orang saya kenal, bertemu dan
saling gelut. Dan, dengan terperangah, batin atau mulut saya pun menyeru
hal-hal klise yang gampang terlontar itu. “Lho, kok dia berubah?” “Dia sudah
jadi dewasa…” “Dia enggak lagi seperti ini, tapi kayak begitu…”
Selanjutnya, muncul permakluman-permakluman, peng-lumrah-an.

 

Ya, rupanya ingatan saya terlalu kolot untuk diajak
berubah dalam menyigi kenalan saya, seiring waktu dan kenalan saya yang telah
berbeda, tak seperti dulu.

 

“Seperti dulu”? Seperti apa? Seperti yang saya lihat dan
alami, atau seperti yang saya ingini? Pada benak kita, pada ingatan-ingatan
kita—yang rapuh itu—rupanya kita kadung percaya. Dan telanjur melacurkan
kepercayaan kita, sesudahnya, seterusnya. Di ingatan kitalah orang-orang yang
kita kenal (dulu), kita awetkan, kita bekukan, kita ciptakan sebagai
orang-orang yang “sesuai” dengan diri kita, yang ingin kita kenal, yang ingin
kita kenal seperti atau sebagai apa.

 

Ketika
mereka yang saya kenal itu tak lagi menampakkan apa yang saya tahu dulu, saya
pun pangling—bolak balik antara yang silam dan yang kini, antara yang dapat
saya ingat dan yang sekarang saya lihat. Dan saya baru sadar, sedari awal saya
memang telah terkelabui oleh benak saya yang membekukan ingatan akan manusia.

 

Bisakah
sesekali kita tak eling, berpaling
dari ingatan yang sering mencatat hal-hal yang terlewat? 

 

 

 

 

Leave a Reply