PMS. Jangan berpikiran jorok dulu. Ini bukan gejala menjelang siklus bulanan yang diidap kaum Hawa, melainkan dialami oleh siapapun yang pernah menjadi mahasiswa, terutama ketika tanggungan kuliah menipis, sementara jumlah semester (juga umur) kian bertambah. PMS adalah pusing memikirkan skripsi.
Itulah yang saya rasakan saat ini. Tapi enggak persis juga seperti itu, kalau istilah itu semata-mata ditujukan buat saya. Pertama karena saya memang belum skripsi, sehingga lebih tepat disebut sebagai Pusing Mempersiapkan (atau Menunggu?) Skripsi, ketimbang memikirkan. Artinya, ya sedang ancang-ancang mereka-reka judul, mencari-cari masalah sok ilmiah, mengada-adakan pertanyaan, merayu dosen, tanya-tanya senior atau yang telah mendahului skripsi, bolak balik ke perpus dan jurusan, berdiskusi dengan sesama teman seangkatan yang juga tengah PMS (meski lebih banyak cuhat dan berbagi keresahan—takut kalau sedang PMS sendirian) dan tetek bengek lainnya.
Kedua, istilah itu bukan untuk menunjukkan bahwa saya mati-matian berjibaku dengan (persiapan) skripsi saya, tetapi pusing karena skripsi orang lain. Bukan soal isi atau muatannya, melainkan ketika seorang, atau beberapa orang rekan pusing memikirkan atau mengerjakan atau menggarap, bahkan menyelesaikan skripsinya, (jadi M di PMS bisa diisi kata manasuka—terserah konteks pihak yang bersangkutan) saya ikut-ikutan pusing. Ya, pusing melihat kepusingan rekan itu, atau pusing karena saya juga diajak berbagi kepusingan mereka—maksudnya ditanya ini-itu seputar skripsi mereka atau sekadar mendengar keluh kesah yang mereka rasakan selama berskripsia-ria itu. Untung kalau saya pas mengerti dan bisa jawab, atau kala itu saya sedang sok bijak sehingga sanggup memberikan ketenangan (sementara). Tapi di luar itu, jelas, saya pun ikut kena PMS!
Dobel malah! Karena ketika kecipratan PMS itu, PMS saya yang laten, yang belum saatnya dan coba saya tahan, ikut-ikutan kambuh. Nah!
Dampak PMS ini macam-macam. Seorang rekan yang tengah PMS (untuk contoh ini, M-nya adalah menyelesaikan, karena teori dan data-datanya sudah beres, tinggal disusun) kabarnya sampai tergolek terserang muntaber. Rekan yang lain ada yang stress, hingga dia merasa kehilangan jatidirinya yang semula lembut dan feminin menjadi lebih cablak dan nakal. Sampai-sampai dia skizofrenia membayangkan skripsi sebagai pacar barunya!
Ada
juga yang memilih lari dari PMS (setelah proposalnya ditolak) dan memilih sibuk pacaran.
PMS juga mengakibatkan su’udzon, curiga, berprasangka buruk, terhadap sesama kawan. Budaya rumpi atau gossip juga ikut tumbuh subur akibat PMS ini. Betapa tidak. Ketika seorang teman tampak menenteng-nenteng buku literature, atau rajin ke jurusan bertemu dosen, atau bolakbalik ke perpus (apalagi yang di bagian dalam—untuk konteks Perpus Sospol), atau yang jarang terlihat di kampus (padahal dia sakit atau memang sedang asyik di kampong halamannya) serta merta kawan-kawannya akan langsung “memfitnahnya” tengah mengerjakan skripsi. Bisik-bisik pun meruyak. Segalanya bisa dihubungkan dengan skripsi.
Dan kalaupun benar dia sedang menggarap skripsi, lantas kawan-kawannya ini segera melakukan ghibbah dengan memperbincangkan apa judul skripsinya, siapa dosen pembimbingnya, bagaimana ke-PMS-annya, dst-nya.
Padahal kecenderungan suspicious dan rerasan ini merupakan proyeksi dari ke-PMS-an yang mereka idap. Semakin tinggi stadium PMS-nya, semakin tinggi pula frekuensi dan intensitas untuk mempergunjingkan orang lain (yang diduga sedang skripsi), kendati belum terbukti bahwa ia yang digunjingkan tersebut memang tengah menyusun skripsi.
Namun yang jelas, salah satu efek samping dari mereka yang terserang PMS adalah menjadi alien di kampus. Ya, karena jarang ke kampus (rajinnya ke perpus atau cuma di kos merutuki nasib[skripsi]nya) kita jadi gagap dengan kampus kita sendiri. Selain karena wajah-wajah mahasiswa baru atau adik angkatan yang jarang kita kenal, teman-teman seangkatan yang terlihat di kampus pun makin bisa dihitung dengan jari—entah sedang PMS juga atawa ngilang karena malu ketinggalan PMS dari rekan-rekannya.
Efek yang tak kalah dahsyatnya adalah PMS membuat mood kita jelek dan jadi malas. Malas ketemu dosen, malas ke perpus, malas konsultasi, diskusi, malas cari data, malas baca, malas menggarap skripsinya! Di titik inilah PMS adalah suatu paradoks dan sebentuk vicious cicle. Satu sisi ia menciptakan mood untuk malas, terutama malas terhadap skripsi itu sendiri. Sementara di sisi yang lainnya, kita tak bisa lepas dari ke-PMS-an itu, bahkan di tengah kondisi malas karena PMS.
Pelepasannya, ya, ada yang merayakan PMS bersama-sama itu tadi, atau cari hal-hal baru di luar akademik sekalian—meski rawan kebablasan. Kebablasan untuk terus PMS tanpa menilik skripsi itu sendiri. Dengan demikian PMS adalah suatu hal yang absurd. Dan seorang pengidap PMS adalah seorang Sisifus.
Seperti halnya seorang eksistensialis totok yang melihat absurditas sebagai satu-satunya jalan untuk menggapai eksistensi, PMS pun menjadi jalur tunggal mahasiswa untuk eksis, bahkan untuk lebih dari itu: melepas status kemahasiswaannya alias lulus.
Entahlah, apakah banyak yang percaya bahwa ketika suatu objek diangkat sebagai wacana atau diskursus dan secara kontinyu diwacanakan, hal tersebut akan membuat wacana itu sendiri tak mengalami stagnasi. Artinya, ketika wacana skripsi itu terus-menerus diangkat dan di(re)produksi, maka akan mempengaruhi perkembangan skripsi sekaligus si pembuatnya.
Ya, artinya pergunjingan itu, sebagai manifestasi PMS, selain dapat mendorong seseorang pengaju skripsi untuk terus berjibaku dan memperjuangkan skripsinya agar cepat selesai (untuk membuktikan omongan kawan-kawannya, atau sebaliknya, karena malu dirasani), juga sama bermanfaatnya bagi si perumpi. Saya hakulyakin mereka yang bisik-bisik tentang kawannya yang sedang skripsi itu, juga ketar-ketir menyiapkan skrispsinya.
*
Skripsi memang memusingkan. Setidaknya itulah yang dialami—atau yang setidaknya saya lihat dari—rekan-rekan di kampus. Seorang mahasiswa senior yang pasti keberatan jika namanya saya kutip di sini sampai-sampai harus mengubah judul skripsinya berkali-kali. Akibatnya, mahasiswa Komunikasi ini mesti mempelajari bidang di luar studi formalnya: psikologi. Ya, psikologi sang dosen pembimbing skripsi. Karena dengan cara demikianlah, ia mendapat ”restu” dan jalan bebas hambatan untuk meneruskan dan atau menyelesaikan skripsinya.
Di kampus saya, konon, skripsi sampai meminta tumbal ”jiwa” sang skriptornya. Syahdan, seorang mahasiswa tingkat akhir tengah berupaya keras merampungkan skripsinya. Setiap hari ia berkonsultasi dengan dosennya. Entah bagaimana ceritanya, si dosen itu tiba-tiba pergi. Skripsi si mahasiswa tak selesai. Tapi, saban sore di tengah kampus yang sepi, si mahasiswa ini masih rutin bertandang ke kampus, mondar-mandir di sejumlah tempat yang sama, celingukan. Matanya nanar. Tak ada suara dari mulutnya. Ia linglung. Kabarnya, di situlah ia mencari dosen pembimbing skripsinya. Dia rupanya kepingin lulus. Entah ke mana, saya jarang lagi melihatnya (atau karena saya jarang ke kampus? PMS?).
Tapi dari kepusingan dan ”tumbal-tumbal jiwa” orang lain skripsi juga bisa lahir skripsi. Suatu siang seorang mahasiswi seangakatan dan sejurusan dengan saya berbagi ke-PMS-annya. Sebetulnya enggak ada yang aneh dari yang ia ceritakan, PMS-nya wajar seperti PMS-PMS yang lain. Cuma, topik skripsinya itu yang bikin saya terhenyak: ”bla-bla-bla (sensor—takut nanti dijiplak, juga karena saya tak terlalu ingat) gempa Jogja”. Nah, tepat pada term ”gempa Jogja” itulah yang membuat saya sedikit takjub.
Rupanya, hikmah gempa tempo hari tak hanya dirasakan para korban, atau pemerintah, melainkan juga mahasiswa. Selain menambah pahala dan mengisi waktu lowong (dengan jadi relawan), atau sebagai sasaran KKN dan mengurangi beban kredit (untuk mahasiswa “akselerasi KKN”), gempa dengan segala akibatnya jadi lahan basah untuk diteliti. Dari kepusingan para korban yang menanti rumahnya dibangun, atau dari tragedi yang melayangkan ribuan nyawa itu pun, mahasiswa menikmati secuil untungnya: mengail tema skripsi!
*
Jadi tua itu pasti, tapi lulus (kapan) itu pilihan! Begitu yang pernah saya dengar. Tapi seorang teman berkata: tanpa pusing, pengerjaan skripsi akan kurang afdol. Begitulah. Apakah semakin tua, kita semakin wajib untuk pusing? Atau pusing, seperti juga lulus, cuma sekadar pilihan?
Barangkali celoteh saya ini juga bagian dari kepusingan itu, dari ke-PMS-an itu.
PMS-lah sebelum kita tak lagi menjadi mahasiswa. Biar enggak nyesel.[]