Rumah

December 18th, 2006 by biasabiasasaja

Surat tak mencukupi. Kata-kata pun akan tampak datar dan hambar. Michael Bubble, ketimbang menyambangi Paris atau Roma, memilih pulang ke rumah. “I want to go home,” begitu nyanyinya yang ngelangutkan itu.

Saya mencari padanan kata “home” dalam bahasa Indonesia. Rumah? Barangkali kata ini yang paling mendekati, tapi kata ini juga sangat rancu dengan “house”.

Rumah, bukan sebagai konstruksi material; semen, bata, genteng, dst-nya, melainkan sebagai atmosfer, ranah, matra, di mana keluarga, orang-orang yang terbuhul karena ikatan darah bertemu, bersekutu, serta sesekali berseteru.

Di rumah pula saya mulai membangun imaji tentang segala sesuatu “di luar rumah”, yang pada akhirnya, imaji-imaji itu akan mengajak kita bertolak dari rumah, sekaligus menolak rumah. Imaji yang hanya ada di luar rumah.

Imaji itu adalah Hidup, Kehidupan—dengan H atau K, sesuatu yang (dalam imaji saya) asing, penuh gejolak, tak mudah ditebak. Dan saya dengan angkuh akan menurutkan imaji itu, mencarinya, membuktikannya, menaklukkannya. Menaklukkan imaji berarti menelusuri pribadi. Menaklukkan imaji berarti menyingkirkan sangsi. Menaklukkan imaji berarti mendaku diri. Gagah. Pongah. Tapi ternyata, kelak itu menjadi amat gegabah.

Tanah rantau, sedekat apapun, akan meletikkan jarak dari rumah dan memintasi jarak dengan imaji-imaji itu. Maka, bergegaslah, berkemaslah saya menuju terra incognita—tanah tak bertuan di perantauan (setidaknya saya belum menjadi “tuan” di sana). Dan rumah pun (beserta saya yang ada di rumah dulu) jadi kelihatan kecil, terkucil, sepele.

Rantau pun kemudian jadi amat seksi dan lebih eksis ketimbang rumah. Seolah-olah di sinilah dunia, hidup, kehidupan itu sendiri. Ketika berada di rantau seakan-akan kita telah cukup jumawa mendaku diri sebagai sosok mandiri, berdikari, teruji, heroik.

Meski kemudian rantau tetaplah rantau. Ia cuma persinggahan. Ia bukanlah muasal dan muara rerasa kita. Rantau adalah ruang artificial, tempat gincu dipoles dan pantofel akan selalu kita kenakan. Dan keringat serta syahwat—dengan segala bentuknya—pun jadi kawan akrab. Ia jeda panjang, dan di rantau kita akan selalu sambat, berkesah—dengan suara parau.

Kita jera, meski tak pernah mengaku jera padanya. Dan itu seolah setimpal dengan segepok buntalan oleh-oleh yang kita bawa, buah bibir yang menggunjingkan kita kuliah atau sudah “jadi orang” di tanah orang, di perantauan. Heboh yang cuma bisa di temui ketika kita pulang ke rumah.

Rumahlah tempat kita kembali. Rumah ternyata menggugurkan imaji-imaji besar itu. Imaji-imaji yang ternyata terbangun lantaran ketidaksanggupan kita (saya) menghadapi realita, dinamika, dan dilema-dilema dalam sebuah rumah. Dan penolakan kita atasnya melahirkan eskapisme untuk keluar dari rumah, mencari yang ada “di luar rumah”.

Rumah jadi tak menarik dan tak asing, padahal kitalah yang mengasingkan dan menarik diri dari hirukpikuknya. Rumah seolah tanpa gejolak, padahal kitalah yang tak piawai mengendus dan mengelola gejolak itu. Rumah seakan tak mampu merawat dan mendewasakan kita, meski nyatanya kitalah yang menafikan kedewasaan itu—dengan membangun imaji-imaji itu tadi. Rumah yang mulanya kita bayangkan remeh, tanpa kita sadari menjadi wahana menemukan hidup, kehidupan, atau dunia itu sendiri.

Kita rupanya amat ringkih untuk terus menampik rumah. Sesuatu yang tak berjarak ternyata acap membuat kita naïf dan kufur.

Maria Eva dan Eva Green

December 12th, 2006 by biasabiasasaja

Dari sebuah milis, saya menerima dialog yang isinya kira-kira seperti ini:

Wartawan (infotainment):          Sudah pernah ditawari menikah (oleh Yahya Zaini)?

Maria Eva:                                Pernah, tapi saya menolak.

Sepintas dari penggalan interview itu (lepas dari sengketa “status” kewartawanan infotainment, berikut acaranya), saya berani menarik simpulan: Maria Eva adalah sosok yang lebih memilih menjadi “madu”, simpanan, atau gundik, dan sebutan lain sejenis, ketimbang diperistri secara sah. Dan barangkali ia takut untuk menjadi istri, tapi maunya sekadar sebagai bini—atawa ”bukan istri namun intim”.

Mungkin dalam benaknya ia berpikir: ”Ngapain susah-susah jadi istri, lha wong dengan jadi simpanan saja (apalagi simpanan anggota DPR) sudah makmur. Lagian juga bisa lebih bebas.” Tentang pilihannya jadi simpenan ketimbang dinikahi, seakan menunjukkan pandangan sebagian awam yang mahfum akan banyaknya perselingkuhan dan zina. Tabiat seperti ini pasti cuma jadi rerasan dan diterima secara wajar. Apalagi  bila yang melakukan adalah pejabat atau

oran

g kaya.

Dan kalau secara halal dan legal, hubungan personal itu kemudian dilanjutkan dalam pernikahan, ya sebenarnya tak jauh beda: tetap jadi gunjingan (objeknya telah berada di ranah publik yang masih diberi catatan sebagai urusan privat). Meski kini, untuk contoh aktual atas kasus YZ—bayangkan jika ia memoligami Maria Eva layaknya Aa Gym, boleh jadi akan lain ceritanya. Rekam-jejak keduanya, dengan masing-masing tabiatnya pada “per-empu-an” itu, tentu akan direspon berbeda. Tapi toh itu tak terjadi. Wajar jika Maria Eva menyatakan menolak untuk dinikahi bila benar kejadian ini semata-mata suatu intrik politik untuk menggusur Yahya Zaini.

Sebagai ”aktris” ia telah bermain cukup ”cemerlang” atas keberhasilannya mendepak YZ dari kursi parlemen—kendati saya belum menyaksikan aksinya itu. Dari sini, opini di Kompas, Pornutopia—yang awalnya ditulis dengan cukup bagus ditutup dengan wanti-wanti yang agak gegabah dan simplifikatif—agar para laki-laki (berkedudukan tinggi) berhati-hati selama melakukan hubungan intim dengan wanita (yang bukan pasangan sahnya). Takutnya, adegan panas tersebut ter/di-rekam oleh ponsel, video, atau karena tersembunyi dan dipakai sebagai amunisi untuk tindakan pemerasan.

Padahal belum tentu juga lelaki selalu dalam posisi dirugikan dan wanitalah yang dengan rekaman persenggamaan itu mengancam akan menyiarkan dan memeras si laki-laki. Hal sebaliknya juga mungkin terjadi.

Tapi yang terjadi dalam kasus tersebut memang tak terlalu jauh dari kenyataan itu. Bahwa lelaki bisa amat dirugikan dengan rekaman persetubuhannya dan rawan akan pemerasan dengan motif apapun. Asumsinya simpel: YZ adalah anggota parlemen dari partai terkuat, dan siapa yang mengenal nama Maria Eva—saya saja baru mendengar namanya setelah kasus ini mencuat.

Dengan demikian, dugaan pemerasan dan trik politik pun tak syak lagi meruyak.

Kalau dugaan itu benar, Maria Eva (atau sang ”penulis skenario”) sungguh cerdas memanfaatkan premis-premis umum yang kadung kita percayai: Bahwa dari persetubuhan (sah atau tidak) yang ”rugi” adalah pihak perempuan,

bahwa bila dimulai dari suka-sama-suka sekalipun, si lelaki lebih punya pretensi dan kuasa untuk melakukan persenggamaan itu. Dari kondisi ”terzaliminya” itu, ia dengan piawai menempatkan dirinya sebagai korban, sebagai pemenuh hasrat seksual awak parlemen dari sebuah partai besar. Apalagi status terhormat wakil rakyat ini amat berkebalikan dengan dirinya yang ”bukan siapa-siapa”.

Dan dari sanalah, dari posisi lemahnya inilah perempuan (setidaknya Maria Eva) dapat dan sah untuk ”menyerangbalik” lelaki (setidaknya kepada Yahya Zaini). Dia kemudian jadi kondang, alih-alih malu, mendapat simpati, pembelaan bodoh dari Ruhut Sitompul dan sok berwacana feminisme—lihat komentarnya yang enggan jadi (istri) yang kedua (untuk ini ia bisa belajar pada Mbak Rini [istri kedua Aa Gym] atau minimal Astrid [biduan ”Jadikan Aku yang Kedua” peniru Bjork itu])

Minimal untuk hal ini, Maria Eva, atau siapa pun di belakangnya, amat luar biasa cerdasnya.

Maria Eva bukanlah Eva Green. Di samping kalah cantik—ini jelas, dan tak perlu dibahas lebih jauh—yang terakhir ini memang aktris memukau. Aktris ini memang pernah berkomitmen tak akan berpose bugil dalam filmnya kendati ia kemudian membatalkan. Tapi keputusan itu toh bukan demi film “14 detikan” atau “3gp-an” seperti Maria Eva itu, melainkan demi The Dreamer-nya Bernardo Bertolucci, atau film seapik

Kingdom

of

Heaven

.

Dan yang paling mutakhir adalah perannya sebagai Vesper Lynd dalam Casino Royale, seri teranyar James Bond. Di sini, Eva Green memang jadi seorang gadis Bond, cewek kesekian agen 007 dan, pasti, beradegan intim dengannya.

Tapi Eva Green bukan cuma bermodal tampang ayu dan tubuh molek layaknya Girl’s Bond kebanyakan. Sebagai akuntan Inggris dalam film Bond ke 22 itu, ia diplot berani menampik Bond dan piawai bermain seni adu gertak dengannya. Simak ketika ia berdebat panjang dengan Bond dalam kereta yang membawa keduanya ke

Montenegro

.

Yang patut diperhatikan, pada ujung cerita film ini, Eva, atau dalam perannya sebagai Vesper, tampaknya tak jauh berbeda dengan si Maria Eva lakukan dalam hal mencelakakan kaum Adam—meski dengan motif, modus, trik, dan akibat berbeda. Dalam sejarah kasus film Bond, agen ini pernah mengalami kejadian persis seperti Yahya Zaini, yaitu dalam From Russia with Love. Ceritanya, sang agen dijebak oleh KGB dengan merekam adegan ranjangnya dengan mata-mata cantik suruhan KGB. Niatnya untuk bikin citra Mi6 cemar dijagat telik sandi internasional.

Di dunia fiktif—dan bukankah parlemen

Indonesia

termasuk di dalamnya, perempuan memang acap distereotipkan sebagai umpan. Atau lelakinya, yang menyediakan diri terkena pancingan? Kalau memang lelaki merasa superior, bahkan dapat berlaku “adil” tentu ia mencari umpan yang sepadan. Dan dari trik Maria Eva dan Eva Green (atau Vesper Lynd) jika saya menjadi korban, saya tahu harus memilih siapa. Kalau anda?

PMS

December 4th, 2006 by biasabiasasaja

PMS. Jangan berpikiran jorok dulu. Ini bukan gejala menjelang siklus bulanan yang diidap kaum Hawa, melainkan dialami oleh siapapun yang pernah menjadi mahasiswa, terutama ketika tanggungan kuliah menipis, sementara jumlah semester (juga umur) kian bertambah. PMS adalah pusing memikirkan skripsi.

Itulah yang saya rasakan saat ini. Tapi enggak persis juga seperti itu, kalau istilah itu semata-mata ditujukan buat saya. Pertama karena saya memang belum skripsi, sehingga lebih tepat disebut sebagai Pusing Mempersiapkan (atau Menunggu?) Skripsi, ketimbang memikirkan. Artinya, ya sedang ancang-ancang mereka-reka judul, mencari-cari masalah sok ilmiah, mengada-adakan pertanyaan, merayu dosen, tanya-tanya senior atau yang telah mendahului skripsi, bolak balik ke perpus dan jurusan, berdiskusi dengan sesama teman seangkatan yang juga tengah PMS (meski lebih banyak cuhat dan berbagi keresahan—takut kalau sedang PMS sendirian) dan tetek bengek lainnya.

Kedua, istilah itu bukan untuk menunjukkan bahwa saya mati-matian berjibaku dengan (persiapan) skripsi saya, tetapi pusing karena skripsi orang lain. Bukan soal isi atau muatannya, melainkan ketika seorang, atau beberapa orang rekan pusing memikirkan atau mengerjakan atau menggarap, bahkan menyelesaikan skripsinya, (jadi M di PMS bisa diisi kata manasuka—terserah konteks pihak yang bersangkutan) saya ikut-ikutan pusing. Ya, pusing melihat kepusingan rekan itu, atau pusing karena saya juga diajak berbagi kepusingan mereka—maksudnya ditanya ini-itu seputar skripsi mereka atau sekadar mendengar keluh kesah yang mereka rasakan selama berskripsia-ria itu. Untung kalau saya pas mengerti dan bisa jawab, atau kala itu saya sedang sok bijak sehingga sanggup memberikan ketenangan (sementara). Tapi di luar itu, jelas, saya pun ikut kena PMS! 

Dobel malah! Karena ketika kecipratan PMS itu, PMS saya yang laten, yang belum saatnya dan coba saya tahan, ikut-ikutan kambuh. Nah!

Dampak PMS ini macam-macam. Seorang rekan yang tengah PMS (untuk contoh ini, M-nya adalah menyelesaikan, karena teori dan data-datanya sudah beres, tinggal disusun) kabarnya sampai tergolek terserang muntaber. Rekan yang lain ada yang stress, hingga dia merasa kehilangan jatidirinya yang semula lembut dan feminin menjadi lebih cablak dan nakal. Sampai-sampai dia skizofrenia membayangkan skripsi sebagai pacar barunya!

Ada

juga yang memilih lari dari PMS (setelah proposalnya ditolak) dan memilih sibuk pacaran.

PMS juga mengakibatkan su’udzon, curiga, berprasangka buruk, terhadap sesama kawan. Budaya rumpi atau gossip juga ikut tumbuh subur akibat PMS ini. Betapa tidak. Ketika seorang teman tampak menenteng-nenteng buku literature, atau rajin ke jurusan bertemu dosen, atau bolakbalik ke perpus (apalagi yang di bagian dalam—untuk konteks Perpus Sospol), atau yang jarang terlihat di kampus (padahal dia sakit atau memang sedang asyik di kampong halamannya) serta merta kawan-kawannya akan langsung “memfitnahnya” tengah mengerjakan skripsi. Bisik-bisik pun meruyak. Segalanya bisa dihubungkan dengan skripsi.

Dan kalaupun benar dia sedang menggarap skripsi, lantas kawan-kawannya ini segera melakukan ghibbah dengan memperbincangkan apa judul skripsinya, siapa dosen pembimbingnya, bagaimana ke-PMS-annya, dst-nya.

Padahal kecenderungan suspicious dan rerasan ini merupakan proyeksi dari ke-PMS-an yang mereka idap. Semakin tinggi stadium PMS-nya, semakin tinggi pula frekuensi dan intensitas untuk  mempergunjingkan orang lain (yang diduga sedang skripsi), kendati belum terbukti bahwa ia yang digunjingkan tersebut memang tengah menyusun skripsi.

Namun yang jelas, salah satu efek samping dari mereka yang terserang PMS adalah menjadi alien di kampus. Ya, karena jarang ke kampus (rajinnya ke perpus atau cuma di kos merutuki nasib[skripsi]nya) kita jadi gagap dengan kampus kita sendiri. Selain karena wajah-wajah mahasiswa baru atau adik angkatan yang jarang kita kenal, teman-teman seangkatan yang terlihat di kampus pun makin bisa dihitung dengan jari—entah sedang PMS juga atawa ngilang karena malu ketinggalan PMS dari rekan-rekannya.

Efek yang tak kalah dahsyatnya adalah PMS membuat mood kita jelek dan jadi malas. Malas ketemu dosen, malas ke perpus, malas konsultasi, diskusi, malas cari data, malas baca, malas menggarap skripsinya! Di titik inilah PMS adalah suatu paradoks dan sebentuk vicious cicle. Satu sisi ia menciptakan mood untuk malas, terutama malas terhadap skripsi itu sendiri. Sementara di sisi yang lainnya, kita tak bisa lepas dari ke-PMS-an itu, bahkan di tengah kondisi malas karena PMS.

Pelepasannya, ya, ada yang merayakan PMS bersama-sama itu tadi, atau cari hal-hal baru di luar akademik sekalian—meski rawan kebablasan. Kebablasan untuk terus PMS tanpa menilik skripsi itu sendiri. Dengan demikian PMS adalah suatu hal yang absurd. Dan seorang pengidap PMS adalah seorang Sisifus.

Seperti halnya seorang eksistensialis totok yang melihat absurditas sebagai satu-satunya jalan untuk menggapai eksistensi, PMS pun menjadi jalur tunggal mahasiswa untuk eksis, bahkan untuk lebih dari itu: melepas status kemahasiswaannya alias lulus. 

Entahlah, apakah banyak yang percaya bahwa ketika suatu objek diangkat sebagai wacana atau diskursus dan secara kontinyu diwacanakan, hal tersebut akan membuat wacana itu sendiri tak mengalami stagnasi. Artinya, ketika wacana skripsi itu terus-menerus diangkat dan di(re)produksi, maka akan mempengaruhi perkembangan skripsi sekaligus si pembuatnya.

Ya, artinya pergunjingan itu, sebagai manifestasi PMS, selain dapat mendorong seseorang pengaju skripsi untuk terus berjibaku dan memperjuangkan skripsinya agar cepat selesai (untuk membuktikan omongan kawan-kawannya, atau sebaliknya, karena malu dirasani), juga sama bermanfaatnya bagi si perumpi. Saya hakulyakin mereka yang bisik-bisik tentang kawannya yang sedang skripsi itu, juga ketar-ketir menyiapkan skrispsinya.

                                                                        *

Skripsi memang memusingkan. Setidaknya itulah yang dialami—atau yang setidaknya saya lihat dari—rekan-rekan di kampus. Seorang mahasiswa senior yang pasti keberatan jika namanya saya kutip di sini sampai-sampai harus mengubah judul skripsinya berkali-kali. Akibatnya, mahasiswa Komunikasi ini mesti mempelajari bidang di luar studi formalnya: psikologi. Ya, psikologi sang dosen pembimbing skripsi. Karena dengan cara demikianlah, ia mendapat ”restu” dan jalan bebas hambatan untuk meneruskan dan atau menyelesaikan skripsinya.

Di kampus saya, konon, skripsi sampai meminta tumbal ”jiwa” sang skriptornya. Syahdan, seorang mahasiswa tingkat akhir tengah berupaya keras merampungkan skripsinya. Setiap hari ia berkonsultasi dengan dosennya. Entah bagaimana ceritanya, si dosen itu tiba-tiba pergi. Skripsi si mahasiswa tak selesai. Tapi, saban sore di tengah kampus yang sepi, si mahasiswa ini masih rutin bertandang ke kampus, mondar-mandir di sejumlah tempat yang sama, celingukan. Matanya nanar. Tak ada suara dari mulutnya. Ia linglung. Kabarnya, di situlah ia mencari dosen pembimbing skripsinya. Dia rupanya kepingin lulus. Entah ke mana, saya jarang lagi melihatnya (atau karena saya jarang ke kampus? PMS?).

Tapi dari kepusingan dan ”tumbal-tumbal jiwa” orang lain skripsi juga bisa lahir skripsi. Suatu siang seorang mahasiswi seangakatan dan sejurusan dengan saya berbagi ke-PMS-annya. Sebetulnya enggak ada yang aneh dari yang ia ceritakan, PMS-nya wajar seperti PMS-PMS yang lain. Cuma, topik skripsinya itu yang bikin saya terhenyak: ”bla-bla-bla (sensor—takut nanti dijiplak, juga karena saya tak terlalu ingat) gempa Jogja”. Nah, tepat pada term ”gempa Jogja” itulah yang membuat saya sedikit takjub.

Rupanya, hikmah gempa tempo hari tak hanya dirasakan para korban, atau pemerintah, melainkan juga mahasiswa. Selain menambah pahala dan mengisi waktu lowong (dengan jadi relawan), atau sebagai sasaran KKN dan mengurangi beban kredit (untuk mahasiswa “akselerasi KKN”), gempa dengan segala akibatnya jadi lahan basah untuk diteliti. Dari kepusingan para korban yang menanti rumahnya dibangun, atau dari tragedi yang melayangkan ribuan nyawa itu pun, mahasiswa menikmati secuil untungnya: mengail tema skripsi!

                                                                        *

Jadi tua itu pasti, tapi lulus (kapan) itu pilihan! Begitu yang pernah saya dengar. Tapi seorang teman berkata: tanpa pusing, pengerjaan skripsi akan kurang afdol. Begitulah. Apakah semakin tua, kita semakin wajib untuk pusing? Atau pusing, seperti juga lulus, cuma sekadar pilihan?

Barangkali celoteh saya ini juga bagian dari kepusingan itu, dari ke-PMS-an itu.

PMS-lah sebelum kita tak lagi menjadi mahasiswa. Biar enggak nyesel.[]